dua minggu lalu, bertemu mbak ana. wartawan harian nasional yang buesaar. dia melontarkan pertanyaan, tentang eksistensi. “Lo mikir nggak sih tentang kerjaan kita. ya gini ini. nulis, nulis, tapi ya udah. ya gini ini.. “
maksud pertanyaan sedikit berkeluh kesah itu ialah frustrasi yang kadang-kadang muncul dan bikin depresi karena ngerasa apa yang dikerjain, sebetulnya gak terlalu banyak bikin perubahan. fiuuuh…. beraaat…
waktu di lifestyle, sumpah mati isu eksistensi (yang sempat menjangkiti saat bertugas di desk metropolitan dulu), jarang mampir. adem ayem damai. pergulatannya ada di area bagaimana bisa lebih mengedukasi dan tampil shopisticated -gak bahas gosip dan berusaha gak terlalu mengarahkan pembaca jadi konsumtif-
keluh kesah mbak satu itu, ditanggapi beragam rupa. aku termasuk yang senyum-senyum pandir sembari mikir,.. siyal.. berasa lagi deh nih virus yang depresif. di negara demokrasi terbesar, Amerika Serikat, media massa diyakini menjadi pilar ke empat demokrasi. maka, sebagai orang yang percaya bahwa demokrasi ialah sistem terbaik bagi kehidupan bernegara (asal ada perlindungan untuk HAM), masuk akal dong kalo saya menganggap kerja wartawan itu kerja yang serius. kerja yang berkontribusi jauh. dan karenanya, punya konsekuensi serius. wuihhh… beraaat.
akhir bulan lalu, buku Wars Within karya Janet Steele diluncurkan. dua tahun lalu, saat saya sempat berguru padanya di pantau, ia masih bersibuk-sibuk mengerjakan projek itu. Ia menulis tentang majalah tempo. penelitiannya dilakukan selama enam tahun. dalam sebuah milis, mantan wartawan Tempo Martin Aleda menulis begini “dia menulisnya dengan empati, sementara orang lokal, terutama orang Tempo sendiri, belum sempat berpikir menuliskan riwayatnya sendiri yang begitu kaya dan sarat dengan ironi.”
kenapa tempo?
Janet jatuh cinta dengan dinamika di dalam redaksi. Melalui jatuh bangun Tempo ia menggambarkan industri pers Indonesia, dengan segala kompromi yang kemudian membungkamnya. menurut Martin, Janet tidak menyinggung “idealisme” Tempo yang begitu memikat pada mulanya.
awal beredar, laporan-laporan Tempo sering tidak ditemukan di koran atau media lain. Bahkan sempat jadi sumber berita bagi koran terpandang: Kompas, Sinar Harapan, The Straits Times Singapura, kantor berita AFP dan Reuters.
Namun, tulis Martin, melalui satu rapat di Wisma Tempo, Sirnagalih, dekat Puncak Pass, “bendera” kebanggaan itu diturunkan. Tak seperti biasa, GM membuka rapat dengan naskah di tangan. Intinya, perubahan orientasi, dari majalah yang dinanti-nanti karena beritanya eksklusif menjadi majalah yang “mengekor”. Beberapa wartawan menentang pembalikan haluan itu. Dengan segelintir oposisi dan floor yang mengamini GM, maka tumbanglah sudah “bendera” Tempo. Dia tinggal hanya sedikit lebih berharga dari rangkuman kliping koran.
kompromi, tentu bukan hanya terjadi di sana. dalam skema personal, kompromi terjadi di banyak hal. kompromi untuk sekadar menulis biasa-biasa aja, hingga kompromi indepedensi yang berbasis kebenaran.
nggak terima amplop ialah mekanisme mudah yang saya percaya tidak akan berujung masalah. aturan untuk itu, sudah saya pilih dengan tegas. gampang. mungkin kalau saya sangat yakin dengan indepedensi saya, pilihan itu tidak menjadi prioritas. wallahualam. waktu masih di lifestyle, saya emang nyaman-nyaman aja terima goodie bag. apalagi kalo emang berhubungan dengan produk. (walau Aliansi Jurnalis Independen menyatakan tidak pada souvenir ) pertimbangannya, less conflict of interest, dan gak pake uang rakyat. pendanaan goodie bag kan dari company bersangkutan ya.. bukan apbn atau apbd gitchuu…
yang kedua ialah kedekatan dengan narasumber. kedekatan macam apa yang cukup aman tapi santun? gimana mengelola kedekatan tanpa menjadi corong narsum yang bersangkutan? seorang teman di desk ekonomi mengaku, ia memohon ijin untuk menulis berita berkaitan dengan narsum yang sudah seperti abang sendiri” meski si “abang” tidak keberatan dan akhirnya berita miring itu turun, kenapa mesti ada mekanisme minta ijin? bukankan sudah ada mekanisme konfirmasi?
memang, tidak sedikit narsum yang kemudian menjadi teman. saya punya beberapa di lingkup lifestyle. tidak terlalu menimbulkan konflik kepentingan, mungkin karena area itu kan tergolong “ecek ecek” di sebuah harian nasional. -beda cerita kalo emang majalah lifestyle- kedekatan itu paling berupa makan bersama di hari ultah, atau akses informasi yang duluan. ya jangan sampai deh jadi daftar debitor saat diperlukan. hehehehe.
yang ketiga, dan paling sering terjadi sehari-hari ialah kompromi dengan keterbatasan. aduh.. saya masih begini nih. masih susah aplikasi meski ada niat di hati. keterbatasan nara sumber, keterbatasan waktu, keterbatasan pulsa telepon, (hehehe) akhirnya berujung pada kompromi sebuah berita yang pas pasan. tidak menulis, tapi memantau berita. ugh…rada nyesek. masa cuma itu yang bisa dilakukan?? apalagi kalo disuruh bikin berita follow up, eh njelalah dapet pendapat berbasis curhat. aduh.. mati gaya deh. apalagi kalo harus tanya orang-orang DPR. la wong mereka kan emang jual kata-kata. kalo cuma sekedar pendapat, oo..si itu gak mentingin kepentingan rakyat, o.. si ini gak peka ama kebutuhan rakyat.. halaaah.. gue juga bisa. hihi..
maksudnya gini loh, kalo lantas pendapat itu jadi pembuka sebuah wacana akademis dan teori baru, ya oke lah. tapi kalo sampe selesai wwcr isinya cuma curhat “kami mengedepankan kepentingan rakyat” aduh, tape deeee…
nah, ketidakahlian memilih narsum itu yang bisa nganter sebuah berita pas-pasan. memantau pendapat orang yang bisa berubah pagi dan sore. politikus sapu jagat, kata schaat. semua yang ditanyain bisa dikomentarin. bombastis dan bisa dijual jadi headline.
bergubung masih bego di desk ini, ya mudah-mudahan gak jadi kompromis tulen. jadi emang harus lebih kerja keras buat nyesuain ritme dan mempercepat terbukanya akses yang lebar. -jadi bisa memilih narsum sesuai kapasitas, bukan karena paling gampang dihubungin di hari minggu
-
posting martin aleida tentang wars within
btw…..
gleg. narsum yang kuhubungi ama sama narsum yang dipake temen seperjuangan. damn. kok bisa ya. dia masukin berita jam 12.46 aku nulis jam 2an meski wwcr jam 11an. duh.. begonya akyuuu…..gini nih kalo jadi wartawan telpon yang miskoordinasi. hahaha.. ca..ca.. payah lu