wine and dine <–my hipereality holiday
Kyoka, pada selasa malam.
Dihadapan saya, tiga gelas berkaki, berdiri seperti pasukan berbaris. Berderet berdasar ukuran badan. Dari yang kecil dan ramping, hingga yang tinggi besar dan berperut bundar.
Seorang waitress menghampiri. Sparkling wine mengisi si ramping. Tak penuh, karena wine memang bukan air putih. Tak perlu menyentuh bibir gelas. Mencecap fermentasi anggur di ujung lidah. First experience, terasa sepat namun ringan. Gelitik udara membersihkan rongga mulut yang belum tersapa makanan. Menyambut kedatangan suapan pertama Zensai.
Gelas kedua diisi. White Wine, Virginie Cabernet Sauvignon. Tercecap manis yang berat. Diikuti sashimi bertandang ke lidah.
Gelas ketiga, yang paling gendut menuggu giliran selanjutnya. Waitres datang membawa sebotol Red Wine, Virginie Chardonnay. Semerah perasan anggur yang telah tua. Gelas gendut bergoyang, agar wine yang terlelap di botol dalam bilangan tahun dapat terjaga. Aroma wangi yang merebak ke udara mengundang tegukan pertama. Hangat melalui tenggorokan. Menyisakan rasa sepat bervanila di rongga mulut yang mulai lelah mengunyah rib-eye teriyaki.
Piring terakhir, setumpuk buah berpotongan bunga. Menjadi penutup sempurna dinner istimewa. dua puluh menit lewat dari pukul 11 malam. -masih ada kopaja lewat nggak ya?- sigh