no need to race about : I cannot always choose my battlefield

May 24, 2005

the real enemy

Filed under: cacatan - Administrator @ 9:43 am

saya masih nggak abis pikir.. kenapa si mantan berubah jadi musuh besar..

kenapa setiap ngomong (bukan atas kemauan saya, tapi karena hal-hal yang perlu seperti meminta balik barang-barang saya) saya selalu kesal.

sampai kemudian saya ingat… seorang teman pernah bilang, tanpa sadar , elu tuh sedang ngebangun sebuah permusuhan ama mantan elu…

hm, jujur aja saya sih nggak berharap seperti itu. tapi semua niat sabar saya kayaknya langsung menguap begitu bicara sama dia..

mesin cuci

Filed under: cacatan - Administrator @ 8:50 am

barusan, seseorang di seberang telpon ngomong.. “sekalian nyari mesin cuci ya…”

well.. nemenin nyari dvd player, okay. nemenin nyari compie, okay.. nemenin nyari mesin cuci?? kok rasanya rada aneh ya…3$4%%66%$$$

May 19, 2005

butterfly in my stomach… -d i s s a p e a r –

Filed under: de words - Administrator @ 12:21 pm

Siang ini, setelah puluhan hari akhirnya saya bisa bertemu dia.

Tidak ada kupu-kupu yang terbang memenuhi perut sejak pagi. Tanpa rasa mual..tanpa detak jantung yang bertambah cepat.

“Hai… ” senyumnya lebar mengembang…

“dari tadi?” sorot matanya menyapa ramah

Duh! yang terasa cuma adem….

dan saya tak merasa kehilangan kupu-kupu lucu

May 18, 2005

gelang karet warna-warni

Filed under: cacatan - Administrator @ 10:34 am

Tadinya gelang karet warna merah itu tanda solidaritas. tapi sekarang, udah berkembang jadi tren. tiap orang make.. dan warnanya berubah jadi warna-warna centil lainnya. bukan cuma merah.. tapi ijo, kuning, biru bahkan warna neon yang menyala dalam gelap<–hasil kreativitas kaum marjinal (kalo gak boleh disebut pembajak ide) , demi mengepulnya asap dapur mereka.

tadinya, gelang merah karet bertulis KEBERSAMAAN itu jadi pertanda sudah menyumbang anak-anak Indonesia. (hasil penjualan bulan Feb-Maret akan direalisasikan dalam bentuk mobil perpustakaan keliling untuk anak Indonesia)

Tapi semakin lama, persediaan si merah menipis dan akhirnya habis.

dan gelang warna warni jadi pertanda kalau kita sudah menyumbang terisinya periuk nasi abang-abang penjual yang nongkrong diatas jembatan penyeberangan Blok M

ruti dan kupi

Filed under: de words - Administrator @ 9:02 am

sekotak roti unyil. secangkir kopi susu yang hangat. setumpuk berkas -teori-teori simbolisme - untuk dibaca. dan jutaan kata tersimpan diotak.. menunggu untuk diketik segera

ahh… what a perfect.. for me

May 17, 2005

what i should do is…

Filed under: de words - Administrator @ 10:58 am

leaving you means:

benar-benar meninggalkan masa itu. benar-benar memotong ingatan itu. benar-benar melangkah dan tidak menoleh lagi. s e l a m a n y a…

thats what i should do!

May 13, 2005

last minute o mine

Filed under: cacatan - Administrator @ 9:23 pm

Hampir 4.30 pagi. Kantor udah sepi banget. Cuma saya dan redaktur saya yang udah mulai kehilangan konsentrasi ngedit. Saya juga yang salah, tidak pernah bisa mengondisikan mental seolah terjebak pada detik-detik terakhir meski sesungguhnya tidak begitu.

Yup, im a last minute person. Plus ditambah kelakuan sok perfeksionis yang belakangan mulai terasa mengganggu.

Bayangin aja, saya punya waktu lima hari buat menuhin semua target. Saya sudah mencicil, mengerjakan sesuai rancangan. Tapi ketiba saatnya menulis, well.. saya mulai menghadapi masalah. Bukan karena writer’s block yang kadang-kadang saya alami. Tapi juga karena rasa usil yang kepengen ngutak ngatik tulisan sebelum menyerahkannya ke redaktur.

Buat saya, menulis adalah suatu hal yang selalu baru. Bahkan menulis topik yang sama. Permasalahan mulai terasa saat saya selesai menulis. Bahkan ketika saya rasa sudah lengkap, esoknya ternyata pikiran saya masih tertinggal di tulisan itu. “Gimana kalau saya ambil angle lain ya, gimana kalau saya nambahin itu ya, bla bla bla, bla bla bla”

Jadinya, tangan saya selalu gatel pengen ngebuka dan rewrite. dan itu bisa bikin saya intens banget. Bahaya buat nasib tulisan saya lainnya yang biasanya emang seabreg-abreg itu. Dan akhirnya, old same old, Jumat selalu jadi hari pergulatan saya. Seperti terpaku bangku, saya betah duduk berjam-jam.Dari pagi hingga menjelang pagi. dan semua energi seperti tercurah. jari saya lebih lincah menari dan pikiran seperti enggan dibendung.

Tapi, apa iya… saya harus selalu jadi last minute person?

May 11, 2005

yang tertinggal

Filed under: de journey - Administrator @ 7:51 am

Suatu kesempatan mengantarkan saya pada sebuah pertemuan. Nggak tanggung-tanggung. Nyaris 40 orang tak saya kenal, disodorkan begitu saja malam itu. Menjelang kepergian menuju Karimun Jawa.

Menjadi bagian dari sebuah keriuhan, bukan hal yang asing buat saya. Toh, setiap hari saya dituntut bertemu orang yang selalu berbeda, terlibat dalam keramaian laksana kembang api. Menyala, meriah sesaat dan meninggalkan bekas, tidak hanya di angkasa, tapi juga di benak.
Menjadi bagian dari keramaian yang asing, bukan sebuah kondisi yang sulit bagi saya.

Sebuah pertemuan akan berujung pada perpisahan. Sebuah klausul yang tak terbantah. Sedari kecil, saya kenal betul rasa sepi itu. Sejak lambaian tangan sahabat masa kecil saya terlihat dari kaca belakang mobil ayah, saya tahu betul arti meninggalkan dan ditinggalkan.

Pertemuan pertemuan dengan manusia lain pada potongan masa, tak semuanya meninggalkan perasaan yang nyaman. Membuat saya memegang erat hukum pertemuan, “jangan melibatkan diri, jangan melibatkan emosi terlalu jauh, kalau nggak mau rese ngalamin fase nglangut dan sepi”

Namun ada manusia-manusia yang membuat saya begitu berani bertaruh emosi. Kepada mereka, saya tak lagi merasa sepi kala harus melambaikan tangan. Seiring pertambahan usia, saya tak lagi merasa sentimentil, bahkan cenderung membuat saya terlihat sinis dan dingin.

Sampai pada suatu malam.. tanpa banyak kata, kami yang tadinya asing satu sama lain, seolah terbungkam kesibukan menurunkan tas bawaan. tergagap dari tidur yang lelap kala bajaj mulai terlihat.

Jabat tangan.. menutup akhir perjalanan, sebuah kata perpisahan.

“makasih ya.. sampai ketemu lagi” seketika rasa sepi itu mengetuk. pelan, nyelonong begitu saja di keriuhan kami mengucap salam.

Karena esok, saya tahu, semua akan kembali ke putaran hidupnya masing-masing. Terbungkus kesibukan dan tenggelam dalam padatnya jadwal harian.

“Kontak-kontak ya.. sampai ketemu,”

Sungguh, saya tak peduli lagi kalau ini hanya basa-basi. Karena dalam hati saya sungguh-sungguh berdoa.

bahkan kala kami tak akan pernah saling menepati janji, saya sungguh bersyukur pernah ada di fase ini

Bahkan kalau tidak diijinkan atas sebuah pertemuan lagi…

new single from PADI

Filed under: de words - Administrator @ 6:35 am

Ada undangan yang harus saya diamkan.. sengaja saya tak pedulikan, beberapa malam silam. sebuah launching, album terbaru PADI.

Ada yang membuat saya malas melangkah, Hem.. jiwa mellow saya lagi engan tersentil.

Jadi undangan itu saya diamkan saja. Tapi, lamat-lamat.. sepotong lirik single terbarunya, masuk juga kekuping. dari sebuah stasiun radio tanpa saya sempat mengganti gelombang.


Sepenuhnya aku ingin memelukmu Mendekap penuh harapan tuk mencintaimu Setulusnya aku akan terus menunggu

Menanti sebuah jawaban tuk memilikimu

saya tahu betul, dia pasti tersindir hebat untuk seseorang yang telah menjajah otaknya begitu hebat.

Dan lagu itu terus berputar. dan saya diamkan hingga akhir. ..

menghela napas..bukan kelegaan..tapi juga bukan kekecewaan. barangkali pelepasan karena sebuah sadar saya tak lagi di fase itu untuknya…

cuma takut

Filed under: de words - Administrator @ 4:03 am

saya tahu, saya sedang mencari bentuk relasi dengan dia. saya juga tahu, saya sedang menantang resiko datangnya luka.

dan saya takut.. saya akan kehilangan teman berikutnya

May 9, 2005

de journey

Filed under: de journey - Administrator @ 11:51 am

Sebuah perjalanan bagi saya, adalah sebuah rentetan kejadian seperti jalinan benang. Bukan tujuan wisatanya, apalagi kepuasan menginjak lokasi tersebut.

Sebuah perjalanan adalah sebuah proses. Menjumpai orang-orangnya. Mengalami kejadian-kejadian. menjadi saksi atas loncatan kisah hidup di saat itu, di tempat itu.

Perjalanan memiliki maknanya sendiri. Dan setiap tempat selalu istimewa, selalu punya arti. Dan kisah-kisah perjalanan saya, tak akan pernah terhenti karena kekesalan ataupun keputusasaan. Setidaknya, demikianlah janji saya.

a short hair cut and a big mouth

Filed under: cacatan - Administrator @ 10:58 am

Kemaren, saya baru potong rambut. Shaggy pendek, tapi kayaknya sih kependekan. temen saya yang sempet nemenin ke salon, gak komentar jelek. “bagus tau… kok lu gak pede gitu sih?” Hehe… dia belum tau kali, ya. Saya nanya gitu kan basa-basi aja. Deep down inside, saya gak terlalu peduli tuh, mau bagus atau enggak. Sejauh guntingannya rata, ya berarti baik-baik aja. Cuma, kalo kependekan, ya masalah buat pipi saya yang jauh dari kategori tirus. :P Well, anyway.. I’m happy lah ama potongan baru yang murah meriah. Gocengan, man!! Jhonny andrean school doonggg…:)

Then… di kantor… seperti biasa… orang-orang komentar. “Nice cut” “Ok, thx” baru jalan dua langkah.. “KOk potong?” “pengen aja,” “Tapi bagus kok.. ” “Thx” baru duduk 3 menit di kursi saya.. “Wah.. kok potong rambut? “. Pertanyaan yang disertai dengan tampang prihatin.

“Hm.. nggak apa-apa, kok.” Jawaban pendek yang disertai senyuman tak kalah manis.

Setengah jam asik nulis.. “Wah.. potong rambut. Stress ya?” pertanyaan teriak-teriak dari seberang meja berjarak lima meter.

“Ah, enggak kok,” volume suara nggak terlalu keras. Ditahan-tahan biar gak keluar aura bete.

“Masa?? Kok potong rambut?” Masih orang yang sama. dari jarak yang sama. dengan volume suara yang sama.

Damn!!

“Well, should i have a reason to cut my own hair. With my own money not yours?” Volume agak keras. dengan nada bete yang tidak dapat tertahan. Dengan pandangan dari beberapa pasang mata lain.

Astaga. segitu usilnya orang-orang ini….. dan sekarang, malah saya yang keliatan seperti orang penyakitan.. nggak bisa mengatur kemarahan. Pffff…

[padahal.. yang mulai juga siapa???]

my own day

Filed under: cacatan - Administrator @ 9:19 am

Well, akhirnya I make my own day. Setelah dua tahun lewat.. astaga!! Really?? Karena saya memang selalu membuat catatan kalau sedang ber-own day- ria. jadi, sejauh kebenaran catatan itu bercerita, kali terakhir, I make my own day sebelum jadian ama seseorang yang sekarang udah berlabel mantan. hehehe..

Well, kemaren, seharian saya berhasil nyenengin diri sendiri. Walaupun waktu yang dipilih sebenernya gak terlalu pas. Saya baru saja pulang dari trip ke karimun jawa. Tiba sekitar pukul 5 pagi, tapi mata saya terlalu malas untuk terlelap lagi. Dan tiba-tiba saja, saya kepengen jalan-jalan sendirian.

Gak berteman siapa-siapa. thats a good feeling when u get alone in a crowd. Mengamati orang-orang yang bersliweran, membuat kegaduhan dan keriuhan, atau justru yang bengong-bengong aja seperti saya.

Kemaren juga gak ada target apa-apa. Cuma ngikutin kaki melangkah, dan kehendak hati aja. Acaranya juga gak heboh-heboh banget.

Ke ambassador buat nyamperin beberapa dvd, -> dapet ray, and 3 keping dvd 3 in one.. ;) mampir carrefour buat beli kebutuhan toiletris yang dah abis dan sebuah cat rambut yang ternyata nggak boleh saya pakai. ;( Mampir kwitang beli buku 5000an.. and saya dapet buku tentang Mao Ze Dong yang ditulis ama dokter pribadinya. Trus masih dapet buku tentang pura besakih dan upacara Eka Dasa Rudra nya, kumpulan cerpennya Leo Tolstoy: setelah pesta dansa, dan dua buku lain ttg kebiasaan di jepang plus pengalaman 130 hari tersandera di Mapnduma, Papua. Just 30 ribu for all..;))

Abis itu masih sempet nonton Janji Joni.. mbak2 tiketnya bikin saya bengong sesaat. “Cuma satu?” “iya.” “Sendiri?” . Heh!! saya makin bengong. Hari gene, nonton sendiri masih dimasalahin?? dan hari itu saya nonton sendiri. Dengan bangku kosong disebelah yang pas untuk tas slempang dan kantong-kantong plastik saya. Dengan sekotak besar popocorn yang tidak harus saya bagi. Dengan segelas besar capucino yang saya nikmati sendiri.

Sepulang dari TIM, saya akhirnya ke kantor. Menyelesaikan my own day dengan nge burn hasil jeptretan kamera ttg trip ke Karimun Jawa. Plus menyortir email dan undangan liputan yang masuk.

Ada kelegaan. Ada bahagia. Untuk menyempatkan diri, memusatkan semesta pada diri saya sendiri.. ;) dan itu, membuat saya lebih mencintai diri sendiri …

May 3, 2005

He’s just not in to you

Filed under: cacatan - Administrator @ 5:43 pm

“Dia kan sibuk”

Itu komentar seorang teman waktu saya nggak sengaja kelepasan omongan. “Kok dia nggak angkat telpon ya? Kok sms saya gak dibales sesering dulu ya?”

Mungkin temen baek saya itu lagi berusaha nenangin saya. Atau berusaha basa-basi sopan.

Tapi, nggak lama kemudian dia ketawa. Ngakak. “Eh.. kita kan pernah ngebahas soal ini ya,”

Yup. kami pernah ngebahas soal basa-basi antara sahabat. Ngebahas bahwa kadang2 orang nggak luput dari penjerumusan sahabatnya tanpa sengaja.

Seperti misalnya kasus diatas, temen saya cuma nyoba bikin saya nggak sebel dengan nyari alasan kenapa mahluk yang saya curhatin lagi nggak jelas juntrungannya. Akibatnya, saya jadi tersugesti kalo mahkluk itu emang lagi sibuk. Dan yang parahnya adalah saya jadi berharap.

Padahal, kalau teman saya bilang.. “Ya wis lah.. emang dia nggak suka sama kamu, kok” Mata saya kan jadi lebih melek. Well, mungkin for the first time saya bakal bete berat, jengkel dan nangis sesenggukan (contoh ekstrim pisan). Tapi, di perjalanan waktu, saya bakal belajar sesuatu. Memasukkan informasi tadi ke otak saya. (walaupun saya emang jarang make otak buat urusan gini :p ) Dan kemudian, ya sudah. saya bisa ngerti dan paham dengan sangat ikhlas.

Satu-satunya alasan ada orang yang males ngomong sama kamu adalah dia emang nggak suka ngomong ama kamu. Titik.

Bahwa kemudian ada pertanyaan “kok gitu sih? emang gue salah apa sih? iya sih, gue emang kalah cantik. Tapi kok gitu sih?” ya emang wajaaar banget. Tapi, teori saya sih, kayaknya gak perlu dilarutkan begitu seperti itu. Terlalu memusingkan dan bikin makan ati.

Seperti kalau kamu ditanya, apa warna yang kamu suka? kalu kamu suka biru, maka kamu akan menjawab biru. BUKAN merah atau putih. Kalau ditanya lagi, kenapa nggak milih merah atau putih? Maka kamu akan menjawab ya nggak suka aja.

Well, sesederhana itu alasannya. So, kalau ada orang yang keliatannya udah malesss banget ngeladenin omongan lu.. well.. he’s just not in to you. Sesederhana itu. Asli!

pangeran impian

Filed under: cacatan - Administrator @ 4:32 pm

Jauh dimasa silam, di masa kecil yang lampau, saya akrab sekali dengan kisah-kisah putri dan pangeran. yang sama-sama cantik dan rupawan, yang bertemu dengan segala keberuntungan (bikin sirik), sampai akhir cerita yang hiperealitas. Waktu itu sih mikirnya polos2 aja.. paling nangis sedih waktu si beast berubah jadi tampan atau kodok yang mendadak adalah sang pangeran. (orang2 buruk rupa tak pernah punya lakon layak di kisah2 itu)

Dan sekarang, saya masih dipusingkan dengan hal-hal seperti itu. Mama saya bilang, saya terlalu picky. Mantan pacar saya bilang, saya terlalu egois dan cenderung nyia-nyiain sebuah hubungan. Teman saya nggak bilang apa-apa, tapi nanya. “Emang lu dah tau lu mau orang yang kayak apa?, emang lu udah sanggup buat bareng2 ama orang yang itu-itu aja?”

Hehe.. iya sih. Kayaknya (!) sih saya udah tau maunya ama siapa, ama orang yang kayak apa, tapiiii….orangnya bisa aja nggak mau sama saya kannnn? Pfff…

Banyak orang bilang, saya termasuk orang yang rumit. Padahal sumpeee deh.. saya nggak neko-neko kok. Pangeran impian saya nggak mesti ganteng, saolnya saya juga bakal males menanggapi perhatian para kaum hawa lainnya..:) Gak mesti pinter2 banget… soalnya saya juga gak rela terlihat bodoh sendirian. :P Cukup enak diajak ngomong macem2, punya minat jalan-jalan, dan bisa bikin saya ketawa dengan guyonan2nya yang jayus sekalipun. Punya kesadaran kalo sebuah hubungan itu rentan ama kebosanan.

N yang PALING penting… pangeran impian saya mestilah laki-laki yang tau banget tentang dirinya, tau mau ngapain, en percaya diri buat ngejalanin hidup yang kadang2 ribet n nyusahin itu.

N..sure.. must be a man who need me to complite his life a.k.a. mikir merid n punya anak bareng saya.

nggak salah kan punya nice hope gini? :)

Jadi, selama hal-hal itu belum jelas.. ya sudahlah. saya mesti pasrah kalau malam-malam panjang saya ngabisin waktu buat kerja dituding sebagai pelarian nggak punya pacar.

Nb: dimana sih nyari “kamu”, Hon ?

May 1, 2005

Menuju Titik Barat Pulau Jawa

Filed under: de journey - Administrator @ 12:13 pm

DI PULAU PEUCANG, Ujung Kulon, Banten, manusia hanyalah tamu yang harus berhati-hati dengan barang bawaan. Terutama cokelat dan makanan ringan. Sang tuan rumah, monyet berbuntut panjang, terlalu jahil dan pintar. Anak kunci yang masih tergantung pada pintu yang terkunci, dapat terbuka oleh tangan-tangan mereka. Begitu berbeda dengan perilaku kelompok rusa. Mereka begitu manis, bermanja-manja kepada para tamu yang jatuh hati pada kejinakan mereka. Setelah kenyang , kaki-kaki jenjang para rusa menyusuri hamparan pasir putih pantai Pulau Peucang. Membentuk deretan panjang bersama telapak kaki manusia, monyet dan biawak yang kerap melintas. Jejak-jejak langkah membekas dalam, karena pasirnya memang terlalu lunak untuk dipijak. Mereka melangkah anggun, enggan mengusik laut yang tampak tenang pagi itu, Sabtu (23/04). Berpadu dengan langit yang terlihat cerah setelah dibersihkan hujan kemarin. Kini yang tersisa hanya gumpalan-gumpalan awan putih. Berarak sangat pelan. Tak mampu mengejar laju burung elang yang terbang tinggi diatas permukaan air laut. Sesekali, tiga perahu nelayan yang ditambatkan di dermaga bergoyang perlahan. Sebuah awal yang baik untuk memulai petualangan di Ujung Kulon. Tujuan pertama ditetapkan, menyambangi Mercu Suar di Tanjung Layar.
Dari Pulau Peucang, matahari yang bersinar terang menjadi teman perjalanan kami. Teriknya memacu terbentuknya minyak di permukaan kulit, campuran keringat dan krim penahan matahari yang sengaja dioleskan tebal-tebal. Namun sapaan angin laut selatan, menyisakan kering yang lengket di kulit. Suara hempasan ombak menyapa buritan beradu dengan deru mesin motor perahu nelayan yang kami tumpangi. Daya tampung untuk dua puluh orang yang hanya dipenuhi separuhnya, menyisakan ruang lega untuk duduk meluruskan kaki. Hijaunya pepohonan terlihat di kanan kiri perairan. Bersama-sama hamparan air laut yang biru kehijauan, menyesaki pandangan mata. Ikan-ikan tembang yang terlihat jelas di pantai, kini tertinggal jauh di belakang. Tidak lebih dari 15 menit badan ini mengikuti ayunan perahu, jangkar kembali dilemparkan. Sebuah kapal kecil bermotor mendekat. Tumpangan kami selanjutnya untuk merapat ke pantai sebuah daerah bernama Cibom.
Mengingat posisi pentingnya di perairan selat Sunda, Cibom pernah diupayakan menjadi pelabuhan. Proyek itu dilaksanakan pada masa kekuasaan Pemerintahan Hindia Belanda. Demi sebuah proyek ambisius di jaman itu, Sultan Banten berbaik hati menyediakan tenaga kerja. Namun mimpi yang dimulai sejak 1808 itu tidak kunjung terwujud. Para pekerja banyak yang melarikan diri, tidak kuat akan gas beracun yang muncul di wilayah itu. Sementara yang bertahan, jatuh sakit dan meninggal dunia. Tidak banyak informasi yang tersedia mengenai kejadian tersebut, tapi setidaknya demikian yang terbaca dari papan informasi di sebuah pos di Cibom. Daerah yang menjadi bagian dari Taman Nasional Ujung Kulon itu adalah pintu gerbang menuju Tanjung Layar. Kini kami memasuki taman nasional yang telah ditetapkan UNESCO sebagai situs warisan alam dunia. Kaki yang semula basah bersentuhan air laut, kini menjejak tanah hutan hujan tropis. Gemerisik daun yang bergesekan, beradu dengan suara daun-daun kering yang terinjak. Udara terasa segar, dengan bau kayu basah seolah menempel pada indera penciuman. Suara monyet yang bersautan sesekali diselingi riuh nyanyian Burung Rangkareng. Keberuntungan pagi itu mengijinkan mata menyaksikan lutung yang berayun di dahan Pohon Johar. Sesekali kelebatan sayap elang diantara hijaunya dedaunan tertangkap jelas oleh mata. Namun ketinggian dan kecepatannya tak sempat terjerat lensa kamera. Seperti hari-hari sebelumnya, babi hutan, kijang, ular, macan tutul, ayam hutan menjadi tuan rumah yang pemalu pagi itu. Sulit sekali melihat mereka dari jalan setapak ini, cerita polisi hutan yang menyertai kami. Mereka memilih berdiam di dalam hutan, dibalik rapatnya pohon kiara dan kopo. Enggan menjadi tontonan manusia yang kerap menawarkan permusuhan. Pemburu liar di hutan ini bukanlah cerita fiksi semata. Sepanjang jalan setapak, pal batu penanda jarak jalan setiap 100 meter, menjadi bukti peninggalan pembangunan pelabuhan yang tak kunjung usai. Sebuah sumur di kiri jalan terlihat semakin tua dengan lumut yang menempel. Sementara kuburan tua di kanan jalan menjadi pertanda. Perjalanan darat yang ditempuh selama satu jam berjalan kaki itu akan berakhir. Tidak jauh dari situ, mercu suar yang ketiga kalinya dibangun di Tanjung Layar, tegak berdiri. Mengerucut keatas, menjulang setinggi 40 meter, sekitar 65 meter dari permukaan air laut. Rangka bajanya dibiarkan telanjang tanpa perlindungan bangunan semen. Cat yang mengelupas disana-sini membuat penampilan mercu suar berusia 33 tahun itu tidak klimis lagi. Deru angin menemani kaki memanjat 84 anak tangga yang berkelok. Kegamangan akan ketinggian terbayar ketika tiba di puncak mercu suar. Penampangnya tidak luas, tidak lebih dari empat meter persegi. Terasa sesak dipadati enam orang dewasa karena masih harus berbagi tempat dengan lampu mercu suar. Namun pemandangan yang terhampar, menguapkan rasa takut ketika lantai besi yang kami pijak terasa bergoyang.
Dari ketinggian itu, mata kami bersua mercu suar yang sudah lama pensiun. Mercu suar kedua itu dibangun di atas mercu suar pertama yang hancur akibat ledakan krakatau 122 tahun yang silam. Otak ini berkelana, menjemput imajinasi tentang masa lalu. Membayangkan penjaga mercu suar yang setia menyalakan lampu kala gelap datang, demi memandu kapal yang berlayar di perairan jalur dagang. Membayangkan petir pada detik-detik menjelang ledakan krakatau, menyambar pintu masuk bangunan mercu suar yang terbuat dari batu. Sementara di bawah tebing itu, ombak besar Selat Sunda menghantam bebatuan. Pecah di titik paling barat daratan Pulau Jawa.

Get frustated

Filed under: cacatan - Administrator @ 11:27 am

Pernah gak sih ngerasa.. yOu deserved for something better?

Bukannya sombong ngerasa pinter atau apa.. Tapi ..duh!! Plis deh.. Ayo dong BELAJAR lagi. Bareng-bareng… Jangan ngerasa kalo tua itu pasti bener…

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King