Gie, catatan dini hari
Tak banyak waktu lagi untuk saya. Ini sudah Jumat. Deadline mingguan. Namun saya seperti terkena writing block yang gila banget. Tertahan menulis. Tertahan berceloteh.
Masih tiga topik tulisan menjadi hutang. Itu berarti tiga halaman penuh bermuatan delapan kolom koran. Setara dengan masing-masing sekitar 300 baris, 30 ribu kata. Menuntut perbedaan perspektif, karena memang tidak bicara hal yang sama.
“Satu-satu lah. Nanti kan juga berkurang,”
Nasihat klasik. Sering terdengar. Tapi percayalah, perkataan biasa itu punya kekuatan saat diucapkan seseorang yang tidak biasa.
Berbekal semangat mendobrak selubung blok mental, saya menghabiskan malam di ruang besar dengan suara ac yang menderu. Dua buku terbuka lebar. Catatan Seorang Demonstran bersampul Nicholas Saputra ada di pangkuan saya. Sementara buku 40 tahun Mapala UI tergeletak tak jauh dari jangkauan tangan.
Dua tugas harus selesai sebelum pukul 12 siang, sebelum saya menjumpai Nicho untuk sebuah wawancara. Dan hingga tujuh jam menjelang, saya baru merampungkan satu tulisan panjang saja. Menyapa masa lalu secara pop. Duh! Dan itu pun dengan kegetiran dan kegamangan yang sangat menganggu. Pertaruhan mahal. Pembelajaran besar. Apalagi jika sebuah topik yang sama akan dibahas jurnalis handal lain seperti Bre Redana, misalnya. Alamak, saya ini siapa?
Mengenai Gie.. well, saya larut dalam jurnal hariannya. Dalam kehidupan seorang aktivis yang mengenal cinta dan sedikit melankolis. Gie akan menjadi ikon. Dan mungkin t-shirt seperti yang dipakai model iklan Kompas akan menjadi prasyarat gaul yang kewl. Sementara bukunya masih relatif mahal. Jauh dari kesan Gie yang merakyat. Ide-idenya yang segar dan berani terkemas mewah dalam balutan budaya pop yang gempita.
Btw…Koran terbitan baru sudah cetak. Lay out hari ini juara dari kemarin-kemarin. Nendang! And I start to feel something. Hope that sunday edition will be great. not just good.. coz I need fabolous!!!
Adzan Shubuh mulai terdengar. Saya butuh penyegaran.. butuh perbincangan.