no need to race about : I cannot always choose my battlefield

August 23, 2005

antara gue, saya, aku, kamu dan elo

Filed under: de words - Administrator @ 8:05 pm

udah tau kan, kalau gaul di jakarta, kata-kata gue dan elo seriinggg banget kedenger. jadi, sekalinya pake kata aku dan kamu… hm, apalagi jika pada awal perkenalan, panggilan -non jakarta- itu tidak biasa digunakan. well… sebagian orang akan berpikir tentang sebuah kedekatan.keintiman.

saya, kerap menggunakan kata-kata aku dan kamu untuk orang yang dekat. atau bisa juga pada orang yang baru kenal, namun dia memakai kata tersebut. atau kepada orang yang lebih tua, tapi untuk kasus ini, saya kerap menggunakan aku dan nama panggilan orang yang bersangkutan dengan embel-embel mas/ mbak/pak/ dst dsb atau sekalian aja, saya sengajakan untuk mengesankan kedekatan.

sementara kata-kata gue dan elo, saya gunakan untuk sapaan sehari-hari, yang biasanya saya sesuaikan juga. kalau orang itu berbahasa gue dan elo, ya saya bisa fasih dan konsisten ber gue -elo. kalau tidak, ya, saya paksa. hehehe

sementara untuk bahasa tekstual, saya ber-saya ria. =)

well… gue elo… itu cara kita biasa menyapa satu sama lain kan ya?

“aku pengen sekolah DJ”

hm.. dan itu pertama kali saya mendengar kamu menyebut diri dengan aku. hehehe… :)

midnight call

Filed under: cacatan - Administrator @ 6:26 pm

nggak tau angin apa yang bikin saya mencet2 no telpon seorang teman. tadinya, saya sama dia cuma sms an. sangat officially pisan. tapi akhirnya jadi ngobrol juga. biasa… seperti layaknya curhat di radio tengah malam. hehehe…

nggak tau juga kenapa sih, dengan sebegitu banyaknya pilihan yang bisa saya lakukan.. antara meneruskan tulisan, blogging, riset bahan tulisan, nonton tv kabel, tapi kok ya saya memilih nelpon.

nggak tau juga kenapa sih, dengan sebegitu banyaknya list nama teman di hp, yang kebanyakan dari mereka juga nokturnal dan nggak keberatan di telpon, kok ya saya milih nilpun ibu yang satu itu. hehe..

just curious,… hows destiny works?

well… kita jadi ngubrul-ngubrul nggak penting, deh. mulai dari obrolan perilaku seorang lelaki yang berbintang sama dengannnya, sampai lowongan pengajar volunteer mandiri di Jambi.

obrolan yang meluncur begitu saja. jadinya malah belajar sesuatu, deh.

bahwa kalo orang aries itu moody… ya wis. emang dari sananya. bahwa keputusannya bisa berubah dalam satu jam.. itu juga bawaan. bahwa dia terbiasa jujur dengan perasaannya..hehe… nggak tau deh. kadang-kadang saya merasa itu bagian dari politiknya. bahwa dia bisa bikin orang lain balik merasa bersalah, well.. emang iya. bahwa dia bisa bikin saya senang hanya karena hal keciiiill banged.. hiks.. itu yang bikin saya merasa seseorang. bahwa dia begitu serius dengan pekerjaannya, seorang pekerja keras yang berbuat maksimal..hm.. itu yang pertama kali membuat saya tertarik. bahwa dia cenderung suka atas perhatian kecil, well… kayaknya patut dicoba nih. hehehe…

dan tentang kesempatan bagus itu… jujur saja, saya ingiiiinnn sekali menghadiahi diri saya dengan kado seindah itu.

August 22, 2005

apa sih mau kamu?

Filed under: cacatan - Administrator @ 2:48 pm

beneran!! aku nggak tau.

la mbok ya bilang saja, tho. biar bisa kita selesaikan segera semua.. atau justru kita mulai sesuatu..

piye??

the way to cheer you up

Filed under: cacatan - Administrator @ 11:23 am

dari dulu, saya kok nggak pintar menghibur orang ya? apalagi kalau ada orang sampai nangis-nangis. aduh… rasanya bersalah banget nggak bisa ngomong apa-apa.

kalau temen perempuan yang mengadu, secara otomatis saya akan berada di pihaknya. ikut mengutuk hal yang membuatnya terburai air mata. karena perempuan, membutuhkan dukungan terlebih dahulu, sebelum berpikir tentang solusi. saya akan memeluknya, membiarkannya bersender sejenak, menyandarkan lelah dan penat.

tapi ketika dia, seorang laki-laki yang saya kenal kalem dan tenang, mengeluh tentang canon 350d yang hanya berumur 6 hari sebelum dicuri orang,
aduh, saya jadi tercekat. belum lagi saat dia bercerita, handycam pinjaman dari teman saya yang lain juga ikutan raib. saya jadi dua kali tercekat! ah!

saya jadi ikut sedih :( nada-nada pelannya di seberang telpon, seperti memanggil saya untuk mendekat padanya.

“yah.. sabar ya. mungkin bakal diganti yang lebih baik”

“iya.. cck… kok bisa ya. Padahal gue kan jarang bisa tidur saat perjalanan,”

“.. iya..”

“..barangnya sih bisa dicari lagi. tapi isinya kan nggak bisa diganti apapun,”

“iya.. ya udah.. jangan sedih lagi ya,.. ntar malam aku telpon lagi, deh.”

“sekarang lagi apa?”

“kerja. udah janji ama orang. sampai nanti ya?”

“iya”

klik. … …

otak saya tak sepenuhnya lagi ada disini. tapi saya jadi berusaha sesegera mungkin mengerjakan segala urusan yang begitu bertumpuk hari ini. menjelang kepergian kamis nanti.

to: 081xxxxxxxx

jangan sedih, ye. sblm gue pergi n berpotensi dimakan hiu, gue traktir yuk. kemana aja deh.. terserah. ngewine juga okey. hehehe.. emang nggak bisa bikin yang ilang balik lagi sih, but thats what i wanna n can do for this moment. kali aja bisa meredakan rasa kesel. life must go on, rite? gimana? bilang ya kalau udah gak capek lagi

message sent.

sumpah, deh. saya nggak pernah bisa jadi penghibur yang baik.. :(

quote

Filed under: cacatan - Administrator @ 8:06 am

Wartawan tanpa keberpihakan moral tertentu adalah mustahil. Setiap wartawan adalah seorang moralis. Itu tak terhindarkan.

Wartawan adalah seseorang yang memandang dunia dan cara kerjanya, seseorang yang dekat dengan banyak hal setiap hari dan melaporkan apa yang mereka saksikan, seseorang yang mewartakan dunia, peristiwa, untuk orang lain.

Dia tidak bisa mengerjakannya tanpa menghakimi apa yang dilihatnya.

Marquerita Duras (1914- 1996) Novelis, penulis skenario, sutradara film dan teater asal Prancis.

Taken from Koran Tempo |Minggu 21 Agustus 05.

August 21, 2005

sebuah hari minggu yang sederhana

Filed under: cacatan - Administrator @ 2:45 pm

setelah matahari bersinar lebih terang dari biasanya, (hey you!! :) ) well.. perasaan saya juga terasa lebih hangat. mood yang paaasss banget buat hari minggu.

belum jam enam, saya udah nyamperin temen. menagih janji lari pagi. jujur saja, saya bukan orang yang mudah termotivasi untuk jogging. too boring, i think. saya nggak pernah bisa lari pagi sendirian. harus ada teman. syukur-syukur kalau bisa lari bareng ama cowok inceran. jadi ada rasa pride yang mesti dijaga. hehehe…

dan betul saja, sebetulnya saya masih mampu untuk dua sampai tiga puteran lagi. kira-kira dua kiloan lah. lagipula, waktu lari baru 12 menit saja. tapi teman saya sudah menghentikan langkah-langkah melayangnya. well, dia emang ngaku, bukan jenis manusia yang atletis atau sportaholic. akhirnya, saya juga jadi ikutan memelankan langkah.

setelah itu, kami sengaja pergi ke pasar tradisional. tapi yang ini nggak pake becek, soalnya emang udah didalam ruangan yang lumayan rapi. well, i am a market lover. gemes liat sayur, gemes liat lupis, sampai jamu.

hasilnya, tangan saya nenteng seplastik besar belanjaan. cuma bayam, jagung manis, tempe, bumbu2 dapur seperti kunci dan garam plus bawang merah dan putih. nggak banyak sebetulnya, tapi karena saya baru pindah kost yang menyediakan dapur, well… ada wajan baru masuk ke plastik kresek hitam itu. plus, sebuah teko keramik mungil untuk acara minum teh. aih… [kapan ya dia mampir dan menikmati senja seraya menyeruput teh kental yang manis, bersama saya tentunya!!!..:) ]

dan acara masak memasak bersama sahabat yang menyenangkan. mengingatkan saya atas permainan masak-memasak kala bocah dulu. lumayan juga, meski sesungguhnya saya tak biasa masak. sembari menikmati (baca: mengkritisi/ mencela) acara tv sembari mengomentari tulisan di dua koran nasional sembari ngerumpi nggak penting seperti, “sms kayak gitu mau diapresiasi kayak apa ya?.Ato diemin dulu ya biar keliatan gak butuh? ”

tengah hari, saatnya mata terasa berat. dan hari masih terasa begitu panjang. masih sempat tidur siang sebelum akhirnya memulai persiapan untuk senin esok. aduh, saya jadi berasa sehat dan berlaku presisi. semangat! semangat!! semangat!!! bahkan untuk tempelan post it yang nyaris menutupi bingkai wajah monitor.

01.00

Filed under: de words - Administrator @ 9:19 am

ZzzzZZzzzzZZZzzz

1 message received

malam, m**a, baru turun dari mahameru nih. ternyata, fisik gue masih kayak dulu ;)

from: 081xxxxxxxx 21-08-2005 01.00

06.00 ah, matahari pagi ini lebih terang dari biasanya :) :)

August 19, 2005

people

Filed under: cacatan - Administrator @ 9:47 am

setiap hari, ratusan barangkali ribuan orang berpotensi menjadi kenalan, teman, rekan kerja, pacar, suami/istri hingga musuh abadi.

nggak pernah ada yang tau, bagaimana sebuah nasib terjalin hingga mempertemukan dua orang dalam simpul-simpul hidup. sama seperti, nggak pernah ada yang tau, alasan dibalik pertemuan yang nggak semuanya menyenangkan. karena beberapa diantaranya meminta air mata sedih dan penyesalan.

saya juga nggak pernah tau, besok akan bertemu dengan orang baru tipikal apa. tapi, pertemuan memang selalu membuat saya excited. berkenalan dengan hal-hal baru, yang saya dapat dari mereka, membuka salur-salur serabut otak. Bahkan tak sedikit yang berakhir dengan sebuah kesadaran, “thx God, telah menjadikan kesempatan pertemuan yang indah,”

Tak semua bisa didokumentasikan disini, terutama karena keberatan mereka yang merasa bukan siapa-siapa. (well.. apapun reasonnya, saya merasa wajib untuk menghormati)

Padahal, quotes indah bisa dimiliki semua orang, siapapun dia. Padahal sebuah kesadaran dalam berhak dimiliki oleh siapapun juga.

Dan saya bersyukur, telah memiliki kesempatan bertemu dengan kamu semua :)

August 18, 2005

lukisan vs furniture

Filed under: de words - Administrator @ 6:11 pm

Sepenggal kata pada Saman (Ayu Utami) mengetuk ingatan Dulu sekali, pernah kubiarkan hati ini terpaku pada sebuah lukisan. Istimewa di mataku, untuk sepotong waktu yang tak singkat. Bahkan, pada beberapa malam yang panjang, kurasakan seluruh alam kejam berkolusi, membenturkan jiwa pada suatu kenangan.

…Kekasih itu seperti lukisan ia membuatmu menyesuaikan tata ruang…
Dan semua itu kutelan saja, sebagai sebuah konsekuensi ketika membiarkan diri jatuh hati pada sebuah lukisan. Karena pada lukisan, tak ada parameter pas pengukur keindahan. Bahkan terkadang tanpa alasan logis, tanpa sebab pas, dan hatimu telah terpaku kuat. Yang tadinya tak kau inginkan sebuah lukisan karena tak cocok dengan ruang makan, tapi kini ruang makan itu yang harus menyesuaikan.

Dan akhirnya, kutinggal lukisan itu di galeri saja. Sekali-kali kutengok, hanya untuk memanggil ingatan akan perasaan indah yang menjalar kala memandanginya. Kini, yang menyita perhatianku adalah sebuah furniture. Sebuah kursi kayu panjang yang aman untuk diduduki kala lelah. dengan besar dan warna yang tepat benar. dengan parameter kenyamanan sesuai standar yang kuciptakan. Namun ternyata, semua hal yang terasa pas itu tak juga menjamin sebuah polah yang sarat logika. Meski kursi itu pas benar dengan beranda rumahku, pas benar dengan hijaunya dedaunan pohon mangga yang menaungi, pas benar dengan meja pendek tempat penganan sore hari. Tapi ternyata, memboyongnya untuk sampai kerumahku adalah perkara yang berbeda. Sampai akhirnya, harus kutunggu angin yang cukup kuat, untuk melemparkan kursi itu, tepat mendarat di beranda rumahku.

aborsi

Filed under: cacatan - Administrator @ 11:15 am

Message received:

Hari ini DPR sedang merumuskan UU Kesehatan tentang aborsi. Mari partisipasi, ketik : TIDAK SETUJU ABORSI, dan kirimkan ke 9949. butuh 3 juta suara yang tidak setuju.

saya tercenung sesaat. deep down inside, saya termasuk orang yang tak akan mengirimkan sms ke no 9949 tersebut. bukan karena pulsa saya yang memang sering habis, tapi lebih karena saya menyetujui aborsi yang dicantumkan dalam uu kesehatan.

saya setuju, janin yang dikandung rahim tidaklah berdosa. tapi saya juga tak rela mengandung benih pemerkosa. (kebanyakan hubungan perkosaan menghasilkan bayi, sementara coitus dalam lembaga pernikahan yang halal selama bertahun-tahun terkadang menjumpai ujian kesabaran) jika pada akhirnya saya melahirkan anak pemerkosa, dan berpotensi pada rasa benci yang luarbiasa, apakah saya menjadi tidak berdosa karena melahirkannya?

jika pada akhirnya saya tak mampu membiayai kehidupan anak pemerkosa itu, lantas menelantarkannya, menyia-nyiakannya,
apakah serta merta saya bebas dari dosa?

itu kalau kasusnya pemerkosaan, spesifik lagi, pemerkosaan oleh orang yang asing.

kalau ternyata kasus perkosaan dalam hubungan famili, seperti yang kerap diberitakan program kriminal, apa masih juga perempuan yang salah sehingga harus menanggung beban? umumnya, kasus perkosaan dalam keluarga terjadi antara superior dan inferior. perempuan muda usia, yang baru saja mekar, terpaksa menjadi bulan-bulanan om, saudara tiri, kakek atau ayah yang cabul. Bukan karena mereka menikmati, tapi ketakutan dan terpaksa. setelah mengalami intimidasi sedemikian rupa, apa mereka harus menjadi korban sistem yang sungguh mendewakan laki-laki ini? dalam kasus ini, legalitas aborsi akan lebih berpihak kepada perempuan. lagipula, percampuran darah yang similar berpotensi menghasilkan cacat bawaan atau penyakit aneh-aneh lainnya, yang menguras biaya. biasanya, kasus ini terjadi dalam keluarga berlatarbelakang ekonomi menengah kebawah. apa jika aborsi tetap tak dilegalkan, maka semua masalah ini selesai?

untuk kasus free sex, well, jujur saja, legalitas aborsi ini akan mengundang kemudahan. habis enak sama enak, buang tanggungjawab. karena memang, pilihan untuk berhubungan intim yang kemudian menghasilkan janin selalu memberikan konsekuensi yang lebih berat kepada perempuan. fisik, jelas. mental, apalagi. saat mata tak dapat mendeteksi ayah dari seorang bayi, maka siapa ibunya jelas-jelas terlihat dari perut yang membuncit. akibatnya, aborsi menjadi pilihan. sama seperti ketika kondom bisa menjadi pilihan preventif.

proses aborsi sendiri, memang mengerikan. terutama bagi janin, karena sang ibu bisa dibius sementara sang ayah malah tak perlu berada di ruang yang sama dengan perempuan yang telah digaulinya.

dan ini adalah postingan yang saya dapat dari sebuah milis:

pada kehamilan muda, sebelum satu bulan, aborsi dilakukan dengan cara menggunakan alat penghisap (suction). Sang anak yang masih sangat lembut langsung terhisap dan hancur berantakan. Saat dikeluarkan, dapat dilihat cairan merah berupa gumpalan-gumpalan darah dari janin yang baru dibunuh tersebut.

pada kehamilan 1-3 bulan, aborsi dilakukan dengan cara menusuk anak tersebut kemudian bagian-bagian tubuhnya dipotong-potong dengan menggunakan semacam tang khusus untuk aborsi (cunam abortus). Anak dalam kandungan itu diraih dengan menggunakan tang tersebut, dengan cara menusuk bagian manapun yang bisa tercapai. Bisa lambung, pinggang, bahu atau leher.’ Setelah itu dihancurkan, tulang-tulangnya diremukkan dan seluruh bagian tubuhnya disobek-sobek menjadi bagian kecil-kecil agar mudah dikeluarkan dari kandungan.

Pada usia kandungan 3-6 bulan, aborsi dilakukan dengan terlebih dahulu membunuh bayi ini sebelum dikeluarkan. Pertama, diberikan suntikan maut (saline) yang langsung dimasukkan kedalam ketuban bayi. Cairan ini akan membakar kulit bayi tersebut secara perlahan-lahan, menyesakkan pernafasannya dan akhirnya setelah menderita selama berjam-jam sampai satu hari bayi itu akhirnya meninggal. Selama proses ini dilakukan, bayi akan berontak, mencoba berteriak dan jantungnya berdetak keras.

Usia kandungan 6-9 bulan, wajah bayi sudah kelihatan, termasuk mata, hidung, bibir dan telinganya yang mungil. Jari-jarinya juga sudah menjadi lebih jelas dan otaknya sudah berfungsi baik. Untuk kasus seperti ini, proses aborsi dilakukan dengan cara mengeluarkan bayi tersebut hidup-hidup, kemudian dibunuh. Cara membunuhnya mudah saja, biasanya langsung dilemparkan ke tempat sampah, ditenggelamkan kedalam air atau dipukul kepalanya hingga pecah. Sehingga tangisannya berhenti dan pekerjaan aborsi itu selesai. Selesai dengan tuntas hanya saja darah bayi itu yang akan mengingatkan orang-orang yang terlibat didalam aborsi ini bahwa pembunuhan keji telah terjadi.

Semua proses ini seringkali tidak disadari oleh para wanita calon ibu yang melakukan aborsi. Mereka merasa bahwa aborsi itu cepat dan tidak sakit, mereka tidak sadar karena dibawah pengaruh obat bius. Mereka bisa segera pulang tidak lama setelah aborsi dilakukan.

Benar, bagi sang wanita, proses aborsi cepat dan tidak sakit. Tapi bagi bayi, itu adalah proses yang sangat mengerikan, menyakitkan, dan benar-benar tidak manusiawi. Kematian bayi yang tidak berdosa itu tidak disaksikan oleh sang calon ibu. Seorang wanita yang kelak menjadi ibu yang seharusnya memeluk dan menggendong bayinya, telah menjadi algojo bagi anaknya sendiri.

===== astaga… saya setuju aborsi adalah pembunuhan. tapi lihatlah dengan sedikit berimbang, keputusan aborsi atau tidak, bukanlah mutlak keputusan ibunya, tapi hasil dari proses pertimbangan akibat tekanan ssuatu sistem. sungguh postingan yang menyayat hati. bukan karena hanya fakta tentang aborsi itu sendiri, tapi juga karena tak menyebut dosa laki-laki.

apa lantas, kalau bilang : aborsi itu keji, maka tak akan ada aborsi? apa lantas, kalau aborsi tidak dilegalkan, tak akan ada aborsi gelap? toh nyatanya, sekarang banyak klinik aborsi gelap yang mengancam kehidupan dua nyawa sekaligus. kalau aborsi dilegalkan, tentunya harus dibangun sebuah sistem kontrol. agar tak menjadi jalan kemudahan bagi pelaku free sex. mau nggak mau, ya kudu preventif. kudu menggedor kesadaran, asyik masyuk itu menimbulkan ribuan kompensasi. jangan lagi bertameng agama, karena bayangan dosa dan neraka begitu abstrak. saya lebih setuju untuk mencuci otak dengan segala kemungkinan terburuk coitus tanpa ridho. mulai dari penyakit, konsekuensi sosial, sampai kemungkinan kondom bocor. tapi paling tidak, jika legalitas aborsi diberlakukan, ada pilihan bagi korban kekerasan. dan tidak serta merta dituding sebagai pembunuh semata.

kalau aborsi diilegalkan, tolong pikirkan juga, bagaimana menghilangkan para lelaki cabul? bagaimana melenyapkan stigma masyarakat, bahwa yang mereka sebut sebagai ank haram adalah akibat dari dua orang. bukan hasil masturbasi ibunya saja.

wallahualam.

tapi membangun perspektif, jika tidak mendukung ilegalitas aborsi berarti termasuk kaum pendosa, well.. buat saya itu kemunduran berpikir yang luar biasa.

Filed under: de words - Administrator @ 8:17 am

Perempuan itu menghembuskan asap rokoknya, perlahan, khusyuk. Meski sesungguhnya ia bukan perokok. hanya sesekali, ketika kebetulan bertemu teman yang punya kesamaan akselerasi dan kebetulan menghisap rokok.

Tapi kini,ia sendiri. Toh ia tetap merokok. Sebuah kebiasaan tak sehat yang telah diketahuinya. Sebuah perilaku yang telah lama ditinggalkannya.

Kakinya melangkah pelan. Menuju ruang yang lebih lega pada sebuah rooftop.
Sebetulnya lebih tepat jika dibilang tempat jemuran yang pas-pas an. Namun sedikit imajinasi, menjadikan tempat itu layak sebagai ruang pelarian. Meski sejenak.

Ia merebahkan tubuh, menumpukan kepala pada sambungan genteng. Tak ada bintang malam itu,juga malam-malam sebelumnya.
Karena langit Jakarta tak sering cerah. Lebih kerap kelabu, seperti kumpulan asap pekat yang tak berujung. Tak sanggup diterobos mata. Diam. Kelam. Dan asap rokoknya, perlahan membonceng angin malam.

Dalam sendiri, ia tak merasa sunyi. Pun kesepian. Hanya terasa lekat dengan alam. Tak harus diam dalam lautan dalam, seperti yang selama ini dicarinya. Saat ini pun, ia seperti tengah berbincang mesra dengan Tuhan. Bos segala bos. Penguasa alam raya.

“Tuhan, saya ingin berdamai. Dengan diri saya, dengan jalinan nasib saya, dengan apa yang Kau sebut sebagai takdir,”

apa kamu orang jawa?

Filed under: cacatan - Administrator @ 8:06 am

saya dilahirkan sebagai orang jawa. karena ibu dan ayah saya, sama-sama berdarah jawa. lahir dan besar di kota kecil, di daerah jawa timur sana. sekitaran madiun, ngawi, nganjuk dan caruban.

saya bisa berbahasa jawa, meski terlebih dahulu harus kursus bahasa jawa dengan guru sd adik saya. lima belas tahun silam. maklum, saat sd saya sekolah di sd swasta di cirebon. sebelum akhirnya, kami sekeluarga pindah ke semarang. dikota itu saya menghabiskan masa abg saya. lengkap dengan guyon ala semarangan yang kadang sungguh saya rindu.

meski fasih berbahasa jawa, tapi saya nggak pernah punya keberanian buat berbahasa jawa dengan orangtua. pun dengan guru ataupun orangtua teman-teman saya. takut keleru, malah kuwalat karena tidak hormat ;)

hanya sesekali yang berarti sangat jarang, saya berani berbicara sedkit. itupun lewat telepon, kalau kebetulan ada teman orangtua yang menelepon. Soalnya, kalau ketemu langsung, waduh, yang ada grogi lan perasaan ketar-ketir.

“Mama mboten wonten niku, Tante. Nopo wonten pesen? “

Kalau saya sanggup bicara seperti itu, dengan nada perempuan jawa yang halus dan kalem, walahhh… seneng banget. hehehe.. Dan itu terbawa sampai sekarang. Saat saya hendak menelepon seorang teman, ok,well gebetan.. :) yang kebetulan orang jawa, dan ternyata ibunya yang mengangkat… tanpa saya sadar, kata-kata Jawa itu meluncur lancar. Meski tak banyak. Tapi cukuplah untuk menjaring kesan pertama. Paling tidak, saya ditanggapi ramah. Hehehe..

Saya bukan keturunan ningrat. Tapi ada yang mengetuk hati saya saat kaki ini mengelilingi kraton ngayogjakarta. Seperti menyentuh masa lalu, menengok kembali akar asal yang entahlah saya punya dalam bentuk seperti apa.

Saya tidak mengerti wayang. Setiap ada pagelaran wayang, saya cuma bertahan tidak lebih dari 20 menit. Ada keinginan kuat untuk memahami budaya saya, tapi suara pak dalang yang merdu itu, kadang melemah kadang dalam, sempurna betul mengantarkan saya tidur.

Saya tidak mengoleksi kaset gending jawa. Tapi saat klenengan itu diperdengarkan di restoran cwie mie malang yang sudah tersentuh modernitas, saya seperti terlempar di beranda rumah jawa. lengkap dengan teh manis kental bergula batu dan nyamikan pisang goreng yang kerap disuguhkan ibu saya.

Saya menyukai buku yang berkisah tentang kehidupan orang jawa. Para Priyayi, Burung-burung Manyar, Lusi Lindri, Genduk Duku bukan cuma saya baca satu kali. Umar Kayam, Romo Mangun begitu memukau saya dengan kesederhanaannya bercerita. Selalu berhasil mengantarkan saya pada kesadaran, apakah saya orang jawa yang cukup njawani? Seperti apa orang Jawa seharusnya?

Berbicara seperti ini, tidak berarti bicara diskrimasi atau nyerempet2 SARA. Apalagi kalau saya tengah menelaah, beberapa laki-laki yang pernah hadir dalam kehidupan saya betul-betul beragam dan bukan orang jawa. Dulu, saya merasa gagah jika memilih terlibat dalam sebuah hubungan yang berpotensi konflik dengan orangtua saya. Orang Batak yang kristen, Muslim tapi manado, sampai laki-laki Bali yang hindu. “Nggak usah ngotak-ngotakin dong Ma. Katanya semua manusia itu sama,” dengan gagah saya berucap, dulu. Ketika semua yang berbeda, yang menerabas batas kelaziman pandangan terasa begitu revolusioner. Hah!! Tapi sekarang, jujur saja, saya merindukan sosok laki-laki jawa, yang tegar dalam tenangnya, yang kuat dalam diamnya, yang bisa sekali-kali bilang, “pelan-pelan aja. Satu-satu dulu. Nanti rak selesai juga..,” saat saya begitu bernafsu “mengubah dunia ” [hey you!! :) ]

Saya tidak sedang dalam kapasitas untuk memilih mana suku yang lebih baik. Bukan itu. Saya cuma sedang berkenalan dengan diri sendiri. Bahwa ternyata, rasa aman dan nyaman itu saya dapatkan dari sosok yang kebetulan bersuku Jawa. Ah, apakah itu kebetulan atau tidak?

Beberapa teman mencibir, mereka bilang orang Jawa itu terlalu basa-basi . Kelihatannya halus tapi menusuk dari belakang. Hahaha.. saya cuma tertawa. Tidak sepenuhnya betul, tapi juga bukan kesalahan fakta. Membunuh tanpa mencabut nyawa, kata-kata halus tapi menusuk menyakitkan, disebut-sebut sebagai ke khas an Jawa. Sekali lagi saya cuma tersenyum. Karena memang, terkadang saya melakukannya juga. Saat ada seseorang yang menurut saya melakukan kesalahan, saya tak akan langusng berkonfrontasi dengannya. Tapi dosanya tak akan terlupa, meski barangkali termaafkan. Suatu saat, ketika kesempatan datang dan tak disangka-sangka, saya pasti akan mengingatkan dengan cara yang halus meski terkesan menyindir. hehe..:)

Belakangan ini, saat saya berteriak-teriak dalam fase degradasi intelektual, mental dan finansial.. :) saya merasa harus berdamai dengan diri saya. dengan keseharian saya. dengan konsekuensi pilihan-pilihan saya. kembali mencari akar diri. kembali menelaah kebaikan dan keburukan. kembali harus berbincang dengan diri sendiri. dan itu termasuk, menyalakan kembali ke jawa an saya.

saya yang bukan priyayi dari darah, tapi seharusnya mampu mriyayeni. nggak gampang kabur kalo lagi ada masalah, berkompromi tanpa harus merendahkan diri, dan sumarah. seperti seharusnya bagaimana orang jawa yang berserah. ya, sumarah. itu saja.

August 17, 2005

merdeka!!

Filed under: cacatan - Administrator @ 9:27 am

udah 17 agustusan lagi.. saya sempat mampir pada sebuah keramaian dekat kost. melihat anak-anak berlarian dengan kelereng yang hampirterjatuh dari sendok.

seorang ibu menghampiri, menyapa. saya cuma tersenyum. “Mau ke kantor,”

tak jauh dari kantor, ada keramaian serupa anak-anak ABG berlumur minyak pelumas. satu diantaranya berhasil sampai ke puncak. mengibarkan bendera sebelum tangannya meraih berbagai hadiah. kaos, uang, dan bingkisan entah apa saja.

saya sempat berdiam mengamati. tak lebih dari dua jam lagi, tempat ini akan sepi. kembali ke fungsi semula, tanah kosong dengan beberapa kambing yang merumput. dan semua orang akan kembali pada aktivitasnya. menonton televisi, nongkrong di pos hansip etc, etc.

dan kisah-kisah pemberangusan hak warga akan terus diberitakan. lantas apanya yang merdeka?

dan kisah eksplorasi lingkungan hingga mematikan komunitas lokal, lantas apanya yang merdeka?

dan bla.. bla..bla..

merdeka, apa cuma mengepalkan tangan dan meninju udara?

August 16, 2005

as simply like this…

Filed under: de words - Administrator @ 12:40 pm

aku ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Sapardi Djoko Damono

Ya.. sesederhana itu!!

–Sekonyong-konyong, saya mengingat bagaimana teman kost saya menyanyikan puisi ini dengan suaranya yang indah–

kemang tengah hari -lil bit story

Filed under: de words - Administrator @ 8:01 am

“teh tarik ama lumpia deh, mbak”

sepuluh menit kemudian, tiga lumpia berbalur mayonaise lembut itu hadir di meja. berteman segelas cair berwarna coklat. bersamaan dengan bunyi ringtone penanda kehadirannya yang sudah tak terlalu jauh.

tanganku masih menari diatas tuts keyboard. menghalau rasa menggelitik di perut. (aih.. aku merasakannya lagi!!) mengusir degup.

pun saat sosoknya mendekat. saat aku harus mendongakkan kepala. tersapa sorot matanya yang ramah, yang ternyata menghapus segala rasa kesal beberapa hari terakhir.

“Kok bisa nyampe sini. Lagi ada perlu dimana, sih?”

Aku cuma menelan potongan lumpia. Menelan keinginan berkata : ya aku sengajain. Biar kita bisa ketemu sebelum kamu pergi, karena waktu kita sungguh-sungguh sempit. Dan Jakarta siang hari terlalu kejam untuk sebuah keinginan atas pertemuan sederhana seperti ini.

“Lagi ada perlu di Aksara. Kerjaan. Kamu belum makan, kan?”

“Iya. Sekalian makan deh,”

Dan teriknya Jakarta tak begitu terasa dari kaca-kaca bening raksasa. Cuma aku dan dia. Duduk berhadapan. Bertukar pandang dan bertukar tawa. What can I ask for more?

“Aku jadi ikut ekspedisi teluk cenderawasih. Berangkatnya tanggal 27. Pulang tanggal 10, mungkin bisa lebih cepat karena harus di Jakarta tanggal 9. ”

Kepala berbingkai rambut yang mulai panjang itu mendongak. Berkomentar pendek, “Lama sekali,”

Aku cuma tersenyum. Tertahan dan ingin berbicara: apa kamu nggak merasa akan pergi lama tanpa bisa di kontak?

Dan selanjutnya perbincangan mengalir. Membawa serta kekesalan-kekesalan kemarin hingga menyisakan lengkung di bibir. Juga membawa serta detak jarum panjang jam tangan hingga menguap ke udara.

“Sudah jam satu, nggak terasa ya,” seru mu, sembari melirikjam tangan di pergelangan kiri.

Ada keluh dalam hatiku, meski kuselipkan serta rasa syukur. Waktu tak pernah berlaku manis. Selalu saja menjadi wasit yang kejam, bahkan atas pertemuan sederhana di siang yang sibuk dan berdebu.

Aku menganggukkan kepala dengan tegas. “Ya kita harus pergi. Kamu harus menyelesaikan packing dan segera berangkat. Aku juga mesti pergi,”

I wont be a needy chick…. :)

Ia mengeluarkan sebuah bungkusan. Oleh-oleh yang ia janjikan, oleh-oleh yang punya batas expired 10 November 2005. Sukurlah ia berikan, saat semuanya belum sepenuhnya menua basi. “Ini, aku udah janji, kan,”

“terimakasih,” ucapku sungguh-sungguh. Bukan karena oleh-oleh itu, tapi karena ia telah membuat pertemuan ini menjadi penting. Karena ia telah berbuat sesuatu, menuaikan satu janji dari barisan janji lainnya yang kelak berderet.

Dan pada lintasan jalur yang berpisah, aku menyisakan senyum, yang mudah-mudahan akan diingatnya. Sebagai tanda, kami bisa memulai lagi dari awal. Membangun kepingan kepercayaan. Menyusun kembali kepingan puzzle yang sempat berantakan.

Nice try hon..:)

percayakan padaku

Filed under: de words - Administrator @ 1:37 am

…jalan hidup yang mesti engkau tempuh, percayakan padaku…

duluuu banget… saya pernah ngerasa ketendang ama lirik lagu sheila on 7 itu. well, sampai sekarang juga sih. masih ketendang, masih ngarep kalau someday ada laki-laki yang bersedia mengucapkan hal seperti itu dengan yakin. aih!! :)

dan masalah kepercayaan ialah suatu hal yang harus dibangun, dipelihara. dan semalam kamu bicara, “ya mesti gimana. ini karena kamu udah nggak percaya lagi kan, makanya kamu nggak mau ketemu?”

deg. betulkah saya sudah tidak mempercayainya lagi? tidak mempercayai bahwa dia akan fight buat sebuah janji yang berkesan sepele?

“hm.. trauma nih,”

“tapi gue gak pernah bermaksud seperti yang lo bilang,”

“okey. gue ngerti. ya udah. karena buat gue nggak pernah ada hal kecil yang kemudian menjadi nggak penting. semakin dewasa, orang harusnya bukan cuma tau apa yang dia mau. tapi juga tau apa yang seharusnya, apalagi kalau ada hubungannya dengan orang lain, apalagi kalau berpotensi buat nyakitin orang lain,”

… …

“Jadi, masih nggak akan percaya ama gue?”

“Lo yang bikin diri lo sulit dipercaya,”

“Okey. besok. gue janji. dan mulai sekarang gue janji, bakal menuhin semua janji gue sama elo, meskipun janji yang-gitu gitu- aja”

“Jangan ngejanjiin yang nggak pasti dan gak bisa dipenuhi. Nanti jadi beban,”

“Iya. besok. janji. kalau gue ngulang, kasih denda deh. tar gue traktir nonton atau apa deh,”

“Nggak usah,”

“Trus?”

“Nggak usah nelpon-nelpon gue lagi,”

“Jahat amat. Ntar gue gak boleh nelpon elu?”

“Iya, kecuali kalau emang lu bisa berkompromi. Gue nggak minta lo berubah, gue juga gak mau ngerubah elu. Paling enggak, kita bisa kompromi dan ketemu di tengah-tengah,”

“Iya. besok. jangan ngambek lagi dong,”

“Hm..”

“ayoo dong… jangan ngambek dulu,”

“Iya. see you,”

Hhh…

belajar mempercayai orang adalah sebuah perjudian tingkat tinggi. beresiko luar biasa, apalagi kalau dia begitu istimewa dua kemungkinan hasil yang saling ekstreem satu sama lainnya.

dan hari ini, saya memulai pertaruhan kembali….

August 15, 2005

expired.. remember!!

Filed under: de words - Administrator @ 2:43 am

“Jadi gimana, ketemuan dimana?”

Pada suatu siang yang getir. Panas. Terik. Menyengat. Dan kamu masih saja membebani kepala saya dengan pertanyaan remeh itu? Lha wong kamu ajak ketemuan dimana aja, pasti saya jawab iya. Tapi, bukannya mengkonstruksi kemungkinan pertemuan, saya malah berujar, “Hm.. panas euy. Nggak ada ide, nih,”

“Baru bangun tidur ya? Ini udah jam satu. Emang tidur jam berapa?” suara di seberang menebak-nebak nada suara yang memang saya sengajakan berkesan malas.

“Jam 7 pagi”

Thats LIE! yang benar adalah : pulang dari kantor jam satu malem, jam dua udah merem damai. wishing a great sunday with him. (BLAH!!) jam 7 dah bangun. beres-beres. nyuci. masak basa-basi. ngerapiin dvd n rak buku. some exercise yang katanya mengencangkan perut :p ngaca-ngaca. milih-milih baju yang berkesan cuek a.k.a nggak disengajain istimewa tapi cukup cute. menipedi mandiri . (yang ini karena aku lagi sebel aja ama kuku) dan luluran, saudara-saudara!!! (yang ini karena efek karimun jawa tiga bulan lalu belum juga ilang! huh!)

Dan tepat jam satu, saat ringtone dido bernyanyi, well.. saya udah kembali ke siklus lelah dan bosan. Nada yang dimalaskan, itu satu bentuk denial -ah, nggak perlu-perlu amat ketemu ama elu kok-

Perbincangan sebentar,membahas trip Lombok. Dia akan berangkat Senin malam. “Gimana, mau ikut nggak?” sebuah pertanyaan yang entah keberapa kalinya untuk tiga hari terakhir ini, tapi saya sudah terlanjur ilang feeling.

Bla bla bla..dan end up nya, ” ya udah. gue jalan dulu deh. ntar gue sms aja,” okay, then.

dan setengah jam kemudian,

message received: “gue mesti ketemu partner kerja. abis itu mau langsung ke kantor, transfer gambar. gimana kalau ntar malem ato besok aja kali ya,”

….. again! sepertinya ini bukan yang pertama kali. ada loop untuk urusan ini. just wondering, kalau tadi saya segera menentukan tempat pertemuan, apakah saya tidak akan terlempar menjadi waiting list prioritas dia hari itu? well… i dunno..

“o, ya sudah. ntar malem better. besok gue sibuk banget dari pagi,”

and time goes by. berhalaman naskah telah saya ketik. berkeping-keping dvd friends saya putar. satu buku kisah tikus despereaux sudah saya baca dalam perasaan deperate! Hah!!

malam kian menua. dan balon harapan saya sudah mengempes sempurna.
message received “kayaknya nggak mungkin. masih di kantor, baru mulai tansfer. besok aja, gimana?”

… I know it.. since i throwed to the end of his list.

“besok gue ke bandung. ya udah, mendingan nggak usah. thx banget,”

thats LIE again. saya tak akan pergi ke Bandung di hari Senin. Cuma liputan dalam kota dan beberapa urusan di siang hari. tapi saya sungguh-sungguh tak ingin bertemu dengannya.

22.00

“masih di kantor ya?

“iya. emangnya kenapa?”

“nggak apa-apa.”

“eh, gue besok malem jalan,loh. gimana? mau ikut nggak?”

“mm.. liat aja ntar. mungkin gue nyusul aja hari rabu.”

“kalau rabu, gue udah perjalanan naik tuh,”

“ya sudah. duluan aja.gue juga belum tau bisa jalan atau enggak,”

“mm..barangnya mau diambil kapan. Gue bawa pulang aja, trus disimpen di kulkas aja ya?”

“dih… lo mau berusaha ngracunin gue, ya?”

“ye.. expirednya november kok,”

“mm.. ya wis. terserah. Lagian, gue bilang juga apa. Nggak usah mbawain, tapi kamu pikir aku ngambek kalo nggak mau. Bener kan kata gue, ketemuannya yang ribet,”

and u know what… maybe oleh-oleh itu baru expired november besok. tapi saya nggak pernah tau kapan perasaan saya ke kamu expired. saya berharap saat ini, seperti ketika saya mendiamkan panggilan telepon kamu pagi ini. dan jika expired, harus segara dibuang, sebelum meracuni dan membuat celaka.

so honey… just remember my expired date, yang saya juga nggak tau kapan. kamu selalu bisa memperpanjang masa berlakunya, tapi kamu juga bisa membuatnya rusak lebih cepat daripada tanggal seharusnya.

August 13, 2005

nggak mutu..!!

Filed under: cacatan - Administrator @ 5:18 pm

akhir-akhir ini saya merasa di fase “ndak mutu!!!” a.k.a lagi mengalami degradasi intelektual, mental dan finansial. hem…

saya masih melakukamn hal-hal yang saya sukai, tapi saya butuh sesuatu yang baru. tantangan baru. saya butuh merasakan adrenalin yang berpacu. saya butuh sesuatu yang bisa menahan dan mengunci perhatian secara intens dan membabibuta.

semakin hari saya merasa tulisan saya betul-betul nggak bermutu. hanya satu dua yang bisa saya jagokan, tapi itu pun barangkali kurang memberikan pencerahan. saya memerlukan sesuatu yang meledak-ledak, yang menjadikan saya akrab dengan panjangnya malam.

duh… saya betul betul ngerasa nggak mutu, nih! aaargggghhhhhhhhhhhhhhh!!!!

tek..tek..tek

Filed under: cacatan - Administrator @ 4:14 pm

sabtu ini saya tak kemana-mana. menghemat energi karena sepagian saya menderita penyakit rutin perempuan.

seorang teman datang, meminta maaf karena rencana ke Goethe batal. tak apa, kata saya. Meski saya kehilangan kesempatan bertemu orang-orang baru yang ingin saya kenal.

tek..tek..tek..

“beli bakso aja yuk lah..”

si abang sengaja berhenti di depan rumah. segera meracik dua mangkok pesanan yang seragam.

semangkuk bakso itu bukanlah bakso yang lezat. biasa saja, tanpa kesan. kami makan dengan lambat. sembari mengomentari berita di tv.

usai makan, mangkuk dikembalikan kepada pemiliknya. selembar sepuluhribuan sengaja saya siapkan. “berapa pak?”

bapak asal sragen itu menjawab dengan halus dan sopan “dua lima ribu neng,”

hh? saya seperti sedang berada di tempat bukan di jakarta.

tapi saya tetap menunggu kembalian, meski barangkali harusnya saya tak memintanya. saya takut ia tersinggung. tapi disisi lain, saya tak merasa pantas membayar kesabarannya dengan duaribu lima ratus rupiah saja. meski dagangannya tidak menyisakan rasa yang luar biasa, tapi tetap saja, 2500. entahlah apa itu pantas dari rentetan kegiatannya. mulai dari belanja, melangkahkan kaki berkeliling kampung, meracik menu pesanan, menunggu dengan sabar, mencuci dan kemudian berkeliling lagi dengan suara suara.. tek..tek..tek..

de confession

Filed under: de words - Administrator @ 4:04 pm

kalau dulu saya nggak ditugaskan pergi ke sana, apa iya saya masih bisa kenal kamu? mungkin saya masih bisa kenal sama kamu, mungkin juga tidak. entahlah. nasib kan memang tidak jelas.

kadang-kadang, cara Tuhan berkomunikasi dengan kita memang sungguh aneh. dan memang, hidup selalu punya kejutan. dan yang namanya kejutan, bisa menyenangkan tapi bisa juga mengagetkan.

kamu adalah kejutan yang menyenangkan. bahkan saya sudah merasa senang sejak pertama kali saya melihatmu. asik dan larut dengan perangkatmu. mengangkat wajah berbingkai ikal rambut sebahu. mengulaskan senyum lebar. menyebutkan sederet pendek namamu.

saya senang pernah sekilas menyentuh tanganmu, “plis, hati-hati. orang sini jarang banget nyalain lampu kendaraan. Tau-tau udah deket banget n kita bisa dituduh nyruduk dengan sengaja,” dan senyummu yang juga sekilas sebelum kembali berkonsentrasi ke jalan itu kembali menenangkan. “iya. tenang aja,” membuat saya percaya telah mempercayakan keselamatan saya pada orang yang benar dan yakin.
mengantarkan saya kembali sibuk dengan tuts-tuts keyboard notebook sebuah tuntutan pekerjaan yang harus saya segerakan.

saya senang kita pernah berbagi sebuah keberuntungan. satu perjalanan pendek yang tak disangka-sangka. saya ingat betul bagaimana saya memandangi kamu yang tengah serius bekerja. (ah, saya sudah tidak lagi menyimpan coretan-coretan kecil, cara komunikasi kita akibat bisingnya diatas sana)

saya senang ketika mendengar suara kamu dari kejauhan. karena ternyata saya merasa kehilangan tak bersamamu seharian.

saya senang karena saya bisa bersender di bahu kamu. bukan saja karena lelah, tapi karena menyenangkan ;) dan saya merutuk kenapa macetnya Jakarta minggu sore itu begitu terasa singkat.

saya senang karena pada suatu hari yang biasa pada suatu tugas yang sangat rutin senyum kamu sudah terlihat dari kejauhan. “lu keliatan lucu,” katamu waktu itu. -bukan jenis lucu ala srimulat, kan? - dan kita berbagi kata lewat sms. “kesini aja, i want to see a woman in uniform. ;) ,”

saya senang karena saya juga bisa bertemu kamu pada saat yang tidak rutin. pertemuan karena ada janji sebelumnya. senayan, minggu siang, sekian bulan yang lalu.

saya senang kita berbagi ruang yang sama, meski kita tenggelam dalam kesibukan berbeda. cukup sekali-kali saling menengok dan bersapa.. kamu berkata, “kayaknya yang itu disebelah sana. Jadi bentuknya bisa beda,” dan sekali-kali ketika melintasi kursimu, saya bertanya, “yang menang siapa?”

saya senang sekali-kali bisa menyenderkan kepala di punggung. melawan deru angin untuk berbincang. karena bagi saya, berbincang denganmu tak akan pernah ada habisnya.

ah, semenjak itu terlalu banyak deretan cerita yang saya punya tentang kamu. dan kata-kata tak akan pernah cukup untuk merunut satu persatu. dan saya tak akan pernah kehilangan senyum saat menuliskannya, persis seperti saat ini. seperti juga saat kita begitu intens berbagi kabar kala terpisah jarak kota. -kamu begitu manis saat kita berada di jeda itu-

meski nantinya, yang saya tulis juga menyisakan rasa sedih. karena berdekatan denganmu juga menimbulkan pedih. mungkin karena komunikasi kita yang rasanya tak bergerak kemana-mana. mungkin juga karena saya.

berkali-kali saya merasa sedih. mellow. frustasi karena kita seolah berbincang dengan bahasa yang berbeda. kamu terkesan begitu angkuh dan tak peduli, begitu semau kamu. seenaknya menggangu jadwal harian yang tersusun di agenda kesibukan saya.

jarak kita kala sama-sama di Jakarta juga tak pernah begitu jauh. toh masih satu kota. tapi sebuah pertemuan tak pernah mudah untuk dijalankan.

meski begitu, saya luluh saat kamu begitu sensitif dan ambil pusing untuk sekedar bertanya “masih marah?”

August 12, 2005

party .. you .. me..

Filed under: de words - Administrator @ 2:42 am

terjebak pada suatu atmosfer pesta. tidak seluruhnya hingar bingar..karena ada ruang-ruang pamer untuk sendiri, seolah tengah serius mengapresiasi karya seni. tidak pengap karena memang diadakan pada ruang terbuka, dengan udara malam Bandung yang menggigit kulit

diantara orang-orang yang baru saya kenal.. yang baru saya lihat.. diantara asap rokok yang terlihat jelas dalam kelam diantara bangku-bangku kayu besar yang ingin saya punya kelak, diantara antrian orang untuk segelas besar heineken gratis diantara lampu sorot kuning yang bergantungan (ah, aku mengingat betul betapa kau tak pernah suka, sementara aku begitu menggemarinya : itu lampu yang cocok untuk membaca, hon!) diantara panasnya grande cappuchino yang sempat menampar ujung lidah diantara jalinan gambar video pendek (mengingatkan pada caramu bekerja. betapa berbeda dengan gaya kamu)

message receives 081xxxxxxxx

lagi ngapain chi?

seulas senyum mengembang. - lagi inget kamu a.k.a lagi mikirin kamu a.k.a lagi pengen kamu disini a.ka lagi pengen bareng kamu meskipun itu berarti aku tidak disini-

reply:

lagi asik party.

to 081xxxxxxxx message sent

again.. !!! WHY?

August 10, 2005

boss, i need a break

Filed under: cacatan - Administrator @ 5:54 am

setelah berkutat sampai dini hari,.. bisa juga saya tidur berteman smooth jazz yang terasa menghangatkan malam.

03.00 alarm hp. mengingatkan waktu kontemplasi. saya cuma melirik sekilas. mematikan dan melanjutkan kontemplasi di alam mimpi. hehehe

05.00 alarm kedua. subuh. kali ini, betul-betul saya tepati. usai laporan, saya menarik selimut lagi.

08.45 alarm tubuh berbicara. astaga… bukannya saya ada liputan jam 9 pagi ini?

kedandapan! ini istilah jawa, artinya kira-kira : melakukan hal dengan tergesa-gesa sebagai efek dari kekagetan dan kebingungan.

09.00 bersiap di depan gang. menunggu metromini. fiuh… mudah-mudahan nggak telat.

09.42. nggak jelek. tidak terlalu terlambat. :p tapi kenapa gedung ini sepi sekali? tidak ada tanda-tanda sebuah acara besar untuk kalangan A+ ibukota

dan benar saja…

12 agustus 2005 09.00 till 12.00 noon. sepotong undangan yang tak lagi mulus itu menerangkan segalanya…

to 081xxxxxxxx

i really need a break.

message sent.

August 9, 2005

gadis sampit

Filed under: cacatan - Administrator @ 5:55 pm

malam ini, kala saya larut dalam obrolan panjang via telkom, sebuah program kriminal mulai tayang di SCTV. kasus esek-esek, penyebaran video durasi tak lebih dari satu menit melalui hp. bukan kasus baru di Jakarta, tapi yang pertama di Sampit. seorang siswi sma terlibat di dalamnya. Juga seorang lelaki berembel2 haji di depan namanya.

selanjutnya bisa ditebak. Pelaku kena ancaman hukuman. namun korban, tak pernah menang. secara otomatis, ia terhukum oleh sistem. ia dikeluarkan dari sekolah, tak lagi mendapatkan haknya atas pendidikan yang kelak berguna untuk masa depan.
seolah-olah, sekolah tersebut tidak bertanggungjawab atas pembentukan apa yang mereka sebut sebagai hal bermoral. padahal, rata-rata ia menghabiskan satu dari setiap tiga jam miliknya per hari kerja untuk belajar di sekolah.

seolah-olah, dengan mengeluarkan siswi tersebut, maka urusan telah selesai. sebagai institusi pendidikan, sekolah tidak boleh dicemari. (lantas apa gunanya pendidikan jika tidak mejadikan sesuatu yang salah menjadi baik kembali?)

sepanjang tayangan program, keluarga korban terekspose habis. mulai dari teman sekolah, teman kelas, paman hingga ibunda, meski wajah korban tertutup rambut hitamnya yang panjang nan halus.

entahlah, saya jadi bertanya-tanya tentang sebuah batasan perlindungan nama baik korban. publikasi adalah suatu hal yang penting, namun rasanya ada yang salah jika ada eksplorasi pihak yang lantas berpotensi menerima perlakuan diskriminatif dari lingkungan sekitarnya.

belum lagi komentar seorang warga yang ditayangkan berkali-kali. Sebelumnya, kamera jelas menangkap ekpresi wajahnya yang menikmati tayangan tersebut. “ya iyalah, kalo nonton kaya gitu ya nikmatin dong,” seru teman ngobrol via telkom. tapi selanjutnya, ia sibuk bicara tentang moral. what the heck,.. lantas yang ia lakukan barusan itu apa? sementara dia menikmati sesuatu hal yang sekaligus dicelanya sebagai hal tidak bermoral.

sama saja seperti kita melihat kaum bencong dengan sebelah mata, bergidik jika mereka melakukan pernikahan sejenis, namun kita juga fasih melafalkan bahasa-bahasanya. “deeeuu…kok gitu sih bowwww”

lantas, seperti apakah jurnalisme yang penuh empati? karena bagi saya, sebuah laporan yang berada di tengah, harusnya seadil mungkin menimbang persoalan tapi tak ragu untuk berada di pihak yang lemah, yang jelas-jelas menjadi korban kekerasan sebuah sistem. tapi entahlah.. saya cenderung akur dengan pendapat oscar dalam perbincangan pekan lalu.. sesuatu yang benar selalu memiliki standar, memiliki daftar parameter. namun sesuatu yang baik, ukurannya cuma perasaan.

dan tiba-tiba dada saya terasa sesak…

August 7, 2005

350 messages

Filed under: de words - Administrator @ 8:43 am

hampir sebulan ini… 350 sms left in my inbox.. 176 nya dari kamu.. saya hapus satu persatu.. kali ini tanpa membacanya lagi terlebih dahulu.

bikin pegel karena saya nggak bisa delete all.. -ada info-info yang harus tetap saya simpan-

well,.. u know what.. What can be said but not practiced is better not said. What can be practiced but not spoken of is better not done.

-ini kesekian kali saya hapus semua pesan kamu atas alasan yang sangat sentimentil-

love is blend

Filed under: de words - Administrator @ 3:51 am

yup.. not only blind, but blend. campur aduk.

kesel..karena tiba-tiba, kamu nggak bisa lagi ngontrol perasaan. mellow.. seneng.. gempita.. seperti kembang api yang berkilau. terang.. sesaat.

dan ada saatnya, saat berdiam begitu nyaman.. saat takmesti larut dalam kegiatan yang sama, meski dalam satu ruang. saat pertanyaan-pertanyaan..”ini bukan sih? dia bukan sih?” ketakutan.. bimbang akibat trauma bertahun-tahun.. sisa luka yang enggan terbuka lagi..

really… u blend my heart. is it love?

Later that day I got to thinking about relationships. There are those that open you up to something new and exotic, those that are old and familiar, those that bring up lots of questions, those that bring you somewhere unexpected, those that bring you far from where you started, and those that bring you back. But the most exciting, challenging and significant relationship of all is the one you have with yourself. And if you can find someone to love the you you love, well, that’s just fabulous -carrie:sex and the city-

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King