Message received:
Hari ini DPR sedang merumuskan UU Kesehatan tentang
aborsi. Mari partisipasi, ketik : TIDAK SETUJU ABORSI,
dan kirimkan ke 9949.
butuh 3 juta suara yang tidak setuju.
saya tercenung sesaat.
deep down inside, saya termasuk orang yang tak akan mengirimkan sms ke no 9949 tersebut.
bukan karena pulsa saya yang memang sering habis, tapi lebih karena saya menyetujui aborsi yang dicantumkan dalam uu kesehatan.
saya setuju, janin yang dikandung rahim tidaklah berdosa.
tapi saya juga tak rela mengandung benih pemerkosa.
(kebanyakan hubungan perkosaan menghasilkan bayi, sementara coitus dalam lembaga pernikahan yang halal selama bertahun-tahun terkadang menjumpai ujian kesabaran)
jika pada akhirnya saya melahirkan anak pemerkosa,
dan berpotensi pada rasa benci yang luarbiasa,
apakah saya menjadi tidak berdosa karena melahirkannya?
jika pada akhirnya saya tak mampu membiayai kehidupan anak pemerkosa itu, lantas menelantarkannya, menyia-nyiakannya,
apakah serta merta saya bebas dari dosa?
itu kalau kasusnya pemerkosaan, spesifik lagi, pemerkosaan oleh orang yang asing.
kalau ternyata kasus perkosaan dalam hubungan famili, seperti yang kerap diberitakan program kriminal, apa masih juga perempuan yang salah sehingga harus menanggung beban?
umumnya, kasus perkosaan dalam keluarga terjadi antara superior dan inferior.
perempuan muda usia, yang baru saja mekar, terpaksa menjadi bulan-bulanan om, saudara tiri, kakek atau ayah yang cabul. Bukan karena mereka menikmati, tapi ketakutan dan terpaksa.
setelah mengalami intimidasi sedemikian rupa, apa mereka harus menjadi korban sistem yang sungguh mendewakan laki-laki ini?
dalam kasus ini, legalitas aborsi akan lebih berpihak kepada perempuan. lagipula, percampuran darah yang similar berpotensi menghasilkan cacat bawaan atau penyakit aneh-aneh lainnya, yang menguras biaya. biasanya, kasus ini terjadi dalam keluarga berlatarbelakang ekonomi menengah kebawah. apa jika aborsi tetap tak dilegalkan, maka semua masalah ini selesai?
untuk kasus free sex, well, jujur saja, legalitas aborsi ini akan mengundang kemudahan. habis enak sama enak, buang tanggungjawab.
karena memang, pilihan untuk berhubungan intim yang kemudian menghasilkan janin selalu memberikan konsekuensi yang lebih berat kepada perempuan.
fisik, jelas. mental, apalagi.
saat mata tak dapat mendeteksi ayah dari seorang bayi, maka siapa ibunya jelas-jelas terlihat dari perut yang membuncit.
akibatnya, aborsi menjadi pilihan. sama seperti ketika kondom bisa menjadi pilihan preventif.
proses aborsi sendiri, memang mengerikan. terutama bagi janin, karena sang ibu bisa dibius sementara sang ayah malah tak perlu berada di ruang yang sama dengan perempuan yang telah digaulinya.
dan ini adalah postingan yang saya dapat dari sebuah milis:
pada kehamilan muda, sebelum satu bulan, aborsi dilakukan dengan cara menggunakan alat penghisap (suction). Sang anak yang masih sangat lembut langsung terhisap dan hancur berantakan. Saat dikeluarkan, dapat dilihat cairan merah berupa gumpalan-gumpalan darah dari janin yang baru dibunuh tersebut.
pada kehamilan 1-3 bulan, aborsi dilakukan dengan cara menusuk anak tersebut kemudian bagian-bagian tubuhnya dipotong-potong dengan menggunakan
semacam tang khusus untuk aborsi (cunam abortus). Anak dalam kandungan itu
diraih dengan menggunakan tang tersebut, dengan cara menusuk bagian
manapun yang bisa tercapai. Bisa lambung, pinggang, bahu atau leher.’
Setelah itu dihancurkan, tulang-tulangnya diremukkan dan seluruh bagian tubuhnya disobek-sobek menjadi bagian kecil-kecil agar mudah dikeluarkan dari kandungan.
Pada usia kandungan 3-6 bulan, aborsi dilakukan dengan terlebih dahulu membunuh bayi ini sebelum dikeluarkan. Pertama, diberikan suntikan maut (saline) yang langsung dimasukkan kedalam ketuban bayi. Cairan ini akan membakar kulit bayi tersebut secara perlahan-lahan, menyesakkan pernafasannya dan akhirnya setelah menderita selama berjam-jam sampai satu hari bayi itu
akhirnya meninggal. Selama proses ini dilakukan, bayi akan berontak,
mencoba berteriak dan jantungnya berdetak keras.
Usia kandungan 6-9 bulan, wajah bayi sudah kelihatan, termasuk mata, hidung, bibir dan telinganya yang mungil. Jari-jarinya juga sudah menjadi lebih jelas dan otaknya sudah berfungsi baik. Untuk kasus seperti ini, proses aborsi dilakukan dengan cara mengeluarkan bayi tersebut hidup-hidup, kemudian dibunuh. Cara membunuhnya mudah saja, biasanya langsung dilemparkan ke tempat sampah, ditenggelamkan kedalam air atau dipukul kepalanya hingga pecah. Sehingga tangisannya berhenti dan pekerjaan aborsi itu selesai. Selesai dengan tuntas hanya saja darah bayi itu yang akan mengingatkan orang-orang yang terlibat
didalam aborsi ini bahwa pembunuhan keji telah terjadi.
Semua proses ini seringkali tidak disadari oleh para wanita calon ibu yang
melakukan aborsi. Mereka merasa bahwa aborsi itu cepat dan tidak sakit,
mereka tidak sadar karena dibawah pengaruh obat bius. Mereka bisa segera
pulang tidak lama setelah aborsi dilakukan.
Benar, bagi sang wanita, proses aborsi cepat dan tidak sakit. Tapi bagi
bayi, itu adalah proses yang sangat mengerikan, menyakitkan, dan
benar-benar tidak manusiawi. Kematian bayi yang tidak berdosa itu tidak
disaksikan oleh sang calon ibu. Seorang wanita yang kelak menjadi ibu yang seharusnya memeluk dan menggendong bayinya, telah menjadi algojo bagi anaknya sendiri.
=====
astaga… saya setuju aborsi adalah pembunuhan. tapi lihatlah dengan sedikit berimbang, keputusan aborsi atau tidak, bukanlah mutlak keputusan ibunya, tapi hasil dari proses pertimbangan akibat tekanan ssuatu sistem.
sungguh postingan yang menyayat hati. bukan karena hanya fakta tentang aborsi itu sendiri, tapi juga karena tak menyebut dosa laki-laki.
apa lantas, kalau bilang : aborsi itu keji, maka tak akan ada aborsi?
apa lantas, kalau aborsi tidak dilegalkan, tak akan ada aborsi gelap?
toh nyatanya, sekarang banyak klinik aborsi gelap yang mengancam kehidupan dua nyawa sekaligus.
kalau aborsi dilegalkan, tentunya harus dibangun sebuah sistem kontrol. agar tak menjadi jalan kemudahan bagi pelaku free sex.
mau nggak mau, ya kudu preventif. kudu menggedor kesadaran, asyik masyuk itu menimbulkan ribuan kompensasi. jangan lagi bertameng agama, karena bayangan dosa dan neraka begitu abstrak.
saya lebih setuju untuk mencuci otak dengan segala kemungkinan terburuk coitus tanpa ridho. mulai dari penyakit, konsekuensi sosial, sampai kemungkinan kondom bocor.
tapi paling tidak, jika legalitas aborsi diberlakukan, ada pilihan bagi korban kekerasan. dan tidak serta merta dituding sebagai pembunuh semata.
kalau aborsi diilegalkan, tolong pikirkan juga, bagaimana menghilangkan para lelaki cabul? bagaimana melenyapkan stigma masyarakat, bahwa yang mereka sebut sebagai ank haram adalah akibat dari dua orang. bukan hasil masturbasi ibunya saja.
wallahualam.
tapi membangun perspektif, jika tidak mendukung ilegalitas aborsi berarti termasuk kaum pendosa, well.. buat saya itu kemunduran berpikir yang luar biasa.