kamu tahu kapan?

kapan kamu tahu, kamu mau berhenti? -errr…errrr…-
ehm..gini, kapan kamu tahu, kamu HARUS berhenti?
dari semua hal, yang selama ini kamu akui sebagai “ini yang gue mau. gue banget deh!” apa aja. kerjaan yang tak lagi membuat “hidup” ketika kamu tersadar begitu banyak hal yang tak lagi kamu buat karena begitu keasyikan dalam zona nyaman. hubungan-hubungan yang salah atau benarnya setipis hasrat memiliki atau menyayangi. hal-hal yang tadinya kamu percayai, lantas perlahan tak lagi kamu yakini, tapi masih juga kamu beri harap -mungkin benar-benar berhasil setelah percobaan yang ini-
ya gitu, apa kamu sudah tahu kapan harus berhenti? -err..err..–
buat jenis orang yang sering sok memakai intuisi seperti saya, jujur saja, saya nggak pernah menargetkan kapan harus berhenti atas suatu hal. kadang-kadang saya merab-raba, waktu yang tepat untuk berhenti. apa ini saat nya? apa ini benar-benar waktu yang tepat? tapi, kapanpun saya berhenti, entah di waktu yang tepat atau tidak, tentu punya konsekuensi logis masing-masing. dan terus saja beranak pinak sebagai hubungan sebab akibat yang sulit diputus mata rantainya.
jadi, kalau sudah diruntut untung rugi, dan ternyata saya masuk dalam label merugi, dengan parameter yang saya buat sendiri, maka artinya saya HARUS berhenti. ialah pada saat semua yang saya kerjakan akan terasa sia-sia dan sama sekali tak menyentuh pada apa yang saya tuju selagi saya masih hidup. huh! saya rasa saya sedang gila saat membuat panduan seperti itu.
karena bisa jadi, mungkin saya udah tau HARUS berhenti, tapi belum juga MAU.
huuuuhhhgghhh……………….. apa dominasi otak kanan harus tetap terkalahkan oleh suasana hati? fffppphhhhh……………………….
-gibego-





buku harian pertama saya, sebuah buku bertulis “diary” di cover depan, dengan warna yang kini saya lupa, saat saya duduk di bangku smp.
mungkin kelas 1, mungkin kelas 2.





