saya enggak tahu sejak kapan saya menyukai perjalanan.
juga enggak tahu sejak kapan terinspirasi untuk melihat dunia-dunia yang jauh.
mungkin sejak sd, ketika kisah-kisah perjalanan gola gong diterbitkan berseri di anita cemerlang punya embak saya.
-saya memang suka ngumpet-ngumpet baca, karena anita cemerlang bukan majalah yang disarankan mama untuk dibaca-
mungkin ketika kompleks perumahan dimana saya pertama kali tinggal di semarang masih dipenuhi bukit-bukit dan ladang kosong, sehingga selalu menjadi bukit misteri bagi saya yang kerap mengangankan diri sebagai jo -georgina- lima sekawan
atau mungkin jauh sebelum itu, ketika masih tinggal di cirebon, dan bersepeda hingga keluar pagar kompleks yang menghadap gunung ciremai ialah pelanggaran area bermain aman.
entahlah.
tapi merunut sejarah perjalanan saya, jalan-jalan waktu sma, bareng empat temen ce satu geng cuma ke jogja.
itu pun juga city visit.
bukan sebuah perjalanan berbau petualangan yang kerap dibanggakan teman pecinta alam di sekolah saya.
tapi saya memang suka duduk-duduk di alun-alun, mblusak mblusuk pasar, dan tersesat dalam riuh suara yang berdengung seperti lebah. its kind of -loose my self- for a moment, and it so relieve…
saya juga suka ke gunung, atau pantai, menikmati sepi yang mengisi ruang hati seperti helium memenuhi balon hingga melayang ke udara.
pada akhirnya, saat ini, ketika kerap kelayaban kemana-mana, saya sadar menyukai banyak jenis perjalanan. kultural, alam sampai kulinari. meski memang, kunjungan ke pasar tardisional ialah agenda wajib setiap mengunjungi tempat baru.
tapi saat itu, saat masih sekolah dan tinggal bersama orang tua, keinginan jalan-jalan itu seperti balon-balon yang terbang ke udara.
hingga tiba suatu masa, saya pergi ke bali.
akhir masa kuliah, 2002.
bandung-jakarta-denpasar by train, rp 300 ribu.
rasanya seneng banget. tak lelah, tak bosan.
saya menyukai rima roda kereta yang itu-itu saja. jag jeg jag jeg..
perjalanan itu berbau sedikit modus.
menjadi relawan pada sebuah konferensi ekonofisika internasional, membuat saya mendapatkan akomodasi gratis. makan gratis. ilmu gratis. jalan-jalan lokalnya sih enggak gratis, but still…
pulangnya dapet kejutan, naik garuda gratis balik jakarta. yup, itu dia pengalaman pertama naik pesawat. bener-bener pertama.
waktu itu, jalan tanpa panduan lonely planet.
tanpa rencana yang detil.
dan setiap saat ialah kejutan.
menyenangkan, tapi ada hal-hal yang harusnya tak terlewat, atau harusnya bisa di hemat.
berkaca dari pengalaman, saya, yang memang dari sononya seneng nge-plan, mulai akrab dengan lonelyplanet dan panduan untuk menjadi traveller.
ke karimun jawa butuh manual.
hong kong butuh manual.
mahakam kalimantan, juga butuh manual.
ada kepuasan tersendiri saat apa yang terjadi di lapangan, sesuai dengan apa yang direncanakan. it feels like i really controlling my life.
tapi, disisi lain, tentu saja ada ketidakpuasan.
bahwa apa yang saya alami, menjadi pengalaman universal.
hotel-hotel rujukan,
tempat makan rujukan,
tujuan wisata rujukan,
semua didapat dari panduan.
ada keinginan untuk merasa nyaman, itulah mengapa saya memilih tempat-tempat rujukan. well, for my self defence :saya kerap bepergian sendirian. lagipula, waktu yang saya punya juga enggak longgar-longgar amat.
perencanaan yang nggak cermat bakal bikin susah juga.
tapi harus diakui, ada ruang kreativitas yang dipersempit atas pilihan saya sendiri.
dan lonely planet, yang selalu ditenteng kebanyakan backpacker, sedikit banyak menentukan keseragaman perjalanan. mereka, termasuk saya, yang menolak digiring pengelola tur perjalan, bersedia digiring teks-teks lonely planet. termasuk digiring perspektif ala ‘orang barat’ memandang negara-negara dunia ketiga.
nggak heran, kalau sekarang saya rada jiper buat solo travel di india.
menggali info sebanyaknya-banyaknya, tentu saja tak pernah menjadi hal keliru. saya termasuk orang yang seneng repot digging informasi, tanya sana-sini, terutama kepada para master backpacker indonesia. tapi kadang-kadang saya pun melanggar batasan ‘cukup’ sehingga kerap merasa cemen karena tidak cukup kreatif menciptakan perjalanan sendiri. tidak cukup berani tersesat. tidak cukup berani bereksperimen dengan guliran dadu nasib.
perasaan bercabang ini- antara keinginan untuk menjadi spontaneous traveler vs well planned traveller, selalu saya alami setiap memulai sebuah perjalanan.
juga hari ini, seminggu menjelang perjalanan menuju india.
waktu perjalan nggak lama, karena sekarang sulit bolos kuliah meski jatah cuti masih bersisa.
hati terus menerus diingatkan, jangan terlalu nafsu, jangan terlalu banyak target. jangan dipaksakan. mengalir saja. ikuti saja.
tapi kemungkinan bahwa kesempatan tak selalu datang dua kali sering membuat saya gusar. duh, kan tanggung. duh, kan udah deket..
dua hari riset di internet, saya belum juga menemukan formulasi pas. rasanya masih terlalu tergesa untuk sedikit area india dan nepal. but today i decide, que sera-sera, whatever will be will be.
-kali ini dengan sebuah niat : saya akan mendokumentasikannya sebaik mungkin di blog perjalanan baru-