almost these 4-5 month, i work with a lot of kids.
20 kids each elementary school, which around 19 school till last week.
they did audition to become a kid reporter.
the selection are: speech in public and interview.
from the speech in public, we know about the courage, self esteem, and the way they interactive with people, also the substansi of the speech.
on interview session, we know that are they really want to be a reporter, or just a smart kid get selected by their teacher, we know the originality of the speech and we know how they construct the question also we know how they critisize something.
they are free to speak up. anything.
sesi wawancara biasanya berlangsung santai. mereka bisa cerita apa yang membuat kesal dan bertengkar dengan saudaranya, hal yang sedang trend bagi anak-anak, apa yang penting bagi anak-anak, cita-cita mereka, apa yang mereka pikirkan agar jakarta tak lagi macet, keeksalan mereka saat orangtua sulit ditemui, ketakutan mereka jika listrik padam hingga gelap gulita, ataupun ketakutan mereka saat terjebak di jalanan macet sementara demo berlangsung . ada yang mengaku berani mewancarai anak jalanan, ada yang mengaku takut dan menggeleng kuat-kuat. ada yang berniat menjadi presenter, ada yang langganan juara bermain piano, hingga anak yang gemar bola dan cuma kepingin ikut audisi agar tidak perlu mengikuti pelajaran IPA.
sometimes, i got surprised. they are so original. freshly open minded.
sometimes, i got shocked. believe me, sekolah-sekolah mahal yang katanya mengadopsi kurikulum luar itu, gak banyak kok yang sukses.
anak-anaknya tetep seperti beo yang dikurung.
niru, dan sibuk dengan pencitraan mana yang baik dan mana yang tidak.
and sorry to say, they REALLY have a problem to comunicate their idea.
cici lintang lebih sadis kasih komentar…”anak-anaknya autis semua. “
well, dari sekian sekolah yang gak semuanya membebaskan anak-anak berekspresi, kami berhasil menerbitkan sejumlah pendapat mereka. nationally published. mereka beropini atas banyak hal. mulai dari lumpur lapindo, smack down, kebakaran hutan hingga poligami.
biasanya tak ada komentar keras. namun minggu ini rupanya berbeda.
salah satu pendapat anak, -dia menulis tentang poligami- mendapat reaksi keras, bahkan dari dalam tubuh redaksi.
and i started to think, kenapa saat mereka beropini tentang korupsi, atau lumpur lapindo, dianggap hebat dan punya kepekaan. tapi kenapa pendapat tentang poligami dianggap kebablasan dan tidak sepatutnya.
apa parameternya?
cici lin jadi harus menjelaskan berkali-kali, topik itu bukan permintaan kami.
karena pada nyatanya, kami memang membebaskan apapun pendapat mereka. seperti juga yang sudah-sudah.
dan pada sesi wawancara, asen, nama anak itu, memang paham betul dengan apa yang dikemukakannya. ia bicara datar, tentang orang katolik yang dilarang poligami, dan lelaki muslim yang boleh beristri lebih dari satu.
datar saja. tanpa prasangka. tanpa tuduhan. sungguh, tanpa lonjakan emosi berlebih. seperti ia bercerita tentang hobinya main playstation. ia mengaku pada saya, ingin menjadi pengacara.
tapi sepertinya, para manusia dewasa yang kaya pengalaman dan (katanya) menjunjung keberagaman kebakaran jenggot sesaat. tulisan poligami dianggap tidak logis jika keluar dari mulut anak-anak. “ya kalo mereka ngomongin alam.. ngomongin televisi itu masih mungkin,”
shit!
kenapa pembatasan salah kamar begitu masih dipegang? kenapa cuma masalah “remeh” yang dianggap logis keluar dari mulut anak-anak. saya jadi ingat pengalaman 25 tahun silam.
when i was child, i have this experience.
kelas nol kecil, waktu ke dokter gigi, aku ditanya “sudah bisa apa?”
aku bilang bisa baca. bisa hitung juga dokter..
“wah bacanya a, b gitu ya”
aku diam. karena saat itu aku sudah bisa membaca nama koran kompas tanpa mengeja. bisa membaca cerita seri kelinci tentang semut dan kura-kura tanpa peduli pada gambarnya.
tapi aku memilih diam.
“kalau angka, sudah hapal juga? ”
aku mengangguk.
“sampai berapa? sampai 10?”
padahal, sumpah.. saat itu aku rasa aku bisa menyebutkan angka dari 1 sampai satu trilyun. apa susahnya mengurutkan nama angka yang berulang? tapi demi tak dianggap aneh, aku jawab, ya dokter,sampai sepuluh.
ok, sepele keliatannya ya. tapi sekarang aku sadar, bentuk ketidakpercayaan diri untuk berbeda dengan awam sudah dimulai di titik itu.
dan pengalaman itu, membuatku benci ke dokter gigi.
sampai sekarang.
dan sekarang, 25 tahun kemudian, apa yang ada di kepala dokter itu, manusia terdidik dan pintar, kembali terulang. pada mereka yang katanya (ingin) dianggap sebagai kaum intelektual. jurnalis senior gitu loohhhh…
namun yang tertangkap olehku ialah cuma bentuk ketaksiapan menghadapi kenyataan, anak-anak sekarang jauh lebih kritis dibanding generasinya yang masih gagap internet. run old boys.. run!!! can’t u? ooh.. poor u..
semalam aku cuma komentar pendek. mungkin dianggap sebagai kekurangajaran. “emang gak banyak sekolah bagus yang bikin anak-anak bebas berani berpikir dan berpendapat sih…..”
mungkin, satud ari mereka, ada juga yang ngebatin “maksud looo??? gue gak sekolahin anak gue di sekolah yang bener? ”
ya sorry to say, apa mereka benar-benar kenal anak mereka? berapa jam ketemuan? kalo emang anak-anak mereka itu di level “standar”, trus apa ya merasa aman dan benar sebagai orangtua?
hehehe… yang ini memang my prejudice for that old boys generation.
but the point is.. never underestimate kids. please learn to hear them.