today’s note
- citizen journalism vs gossip berjamaah
being citizen jurnalist at panyingkul.com
ini tentang citizen journalism. mas Sapto Pradityo, senin lalu juga membahas tentang jurnalisme warga negara di halaman majalah Tempo. terkait dengan kekesalan pemerintah kabupaten Blitar atas sebuah berita yang di publish di halamansatu.net : pemkab blitar berencana membangun kompleks lokalisasi pelacuran terbesar di Jawa Timur
yang jadi masalah: berita itu bohong.
memang, bagaimana menggawangi masalah keakuratan, beberapa situs penyedia layanan tersebut punya pendapat sendiri. tapi pada dasarnya, tentu saja ini masalah kepercayaan. kalo ada berita “palsu”, apa iya mau percaya situ itu lagi. apalagi jika situs berita swadaya warga negara tersebut, baru seumur jagung.
terkait akurasi data, mungkin bisa berkaca pada kasus adam air yang baru lalu. bayangkan, mulai dari media negeri sendiri sampai BBC dan AFP terpilih menjadi para miss-information of the year 2007, instead of miss universe. hehehe..garing!! bletak!!
informasi warga, bisa menjadi sebuah informasi berharga kalau dikonfirmasi ulang, menurut metodologi pembuktian kebenaran yang teruji. kalau hanya sekadar menjaga muka hingga tak lagi teliti karena gak rela dicerca lambat bekerja ( maklum, masalah informasi di negeri ini, butuh waktu konfirmasi yang lama!!) apalagi mengejar gengsi untuk menampilkan update cepat, lah ya mau jadi apa?
media yang terbuka sekarang, dengan blog independen yang dimiliki dengan mudah, di satu sisi membuka keran kontribusi warga seluruh dunia. untuk berbagi informasi, dalam perspektif “orang biasa”. namun tak semua yang ngeblog, lantas dilabeli citizen journalist, toh?
links: + http://panyingkul.com
- reading Saddam vs Best Seller label
barusan pinjem (dengan paksa) sebuah buku buah karya Saddam Hussein yang baru diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Judulnya, devil’s dance. sebetulnya buku ini udah publish sejak tahun lalu, dan menjadi bestseller di Jepang.
beberapa penyebab yang membuat buku ini eksotis buat saya, ialah:
-karena penulisnya telah wafat di tiang gantungan, penghujung tahun lalu. seperti kambing yang dikurbankan pada idul adha :bush emang gila! korban sipil yang terus berjatuhan sejak pendudukan tentara AS jauh melebihi korban Saddam.
-karena novel diselesaikan Saddam saat tentara sekutu siap siaga menggempur Irak.
apa yang sebetulnya dipikirkan ia di saat genting tersebut? coba bayangkan, seorang target utama negara adikuasa yang tengah sibuk menulis, dengan sangat fokus, asosial karena tergesa waktu. ia terkesan tak peduli dengan kesiapan serangan sekutu. atau justru sangat peduli, karenanya segera menyelesaikan naskah fiksinya.
analisa semiotik atas novel ini tentu sangat menarik untuk mengetahui apa yang terjadi. pada sampul buku, tercantum komentar Itsuko Hirata- Wartawan Jepang (di Jepang, karya ini laris manis dengan judul Akumo no dance)
“…saya yakin, novel ini adalah sebuah usahanya untuk menjelaskan posisi dirinya dan sebuah pesan untuk rakyat Irak…”
tentang bestseller, well, rata-rata catatan pribadi di era krisis, seperti catatan Soe Hok Gie ataupun Anne Frank, berkategori best seller . disukai dan dicari, karena ditulis dari perspektif pelakunya. catatan harian yang dipublikasikan -mirip halaman-halaman blog di era sekarang- memiliki nilai lebih karena muncul dari “rasa orisinalitas orang pertama”
sementara, kategori best seller, berbeda-beda untuk tiap negara, juga jenis buku: apakah fiksi, nonfiksi, dsb. bahkan versi hardcover ataupun paperback, punya kategori bestseller.
belum sempet digging sih, bagaimana behind the scene of bestseller, tapi aku rasa itu bahan bagus buat dipikirkan dan ditulis dengan kedalaman dan taste. ciee….
currently reading: - devil’s dance. saddam hussein
beauty for sale. faradhyt
the devine supermarket: shopping for God in America. malise ruthven
the nanny’s diaries. Emma Laughlin& Nicola Kraus.
home.ashley ng