Di Jakarta, 11-17 Mei mendatang, ada sebuah kegairahan. Bertajuk Jakarta Fashion& Food Festival. Bertempat di Kelapa gading.
Well, its simply like jakarta fashion week nya lah. Tiap malem ada fesyen show. ya tentu saja skala lokal. perancang daerah yang didaulat unjuk gigi di jakarta. aku sendiri sih melihatnya sebagai upaya yang sangat-sangat positif. meski sebetulnya, jujur, duduk di deretan depan yang bisa liat detil, sangat-sangatlah dilematis. ngantuk. ngebosenin. tapi aku masih sangat ingin berlaku manis dengan tidak tertawa terbahak-bahak saat model pria memeragakan kimono full bunga atau ngantuk berat saat kain dicacah menjadi rumbai yang menutupi rok panjang didalamnya. oh my god.hare geneee.. pake model korden gitu? halah. kalo anak sekolah yang presentasi barangkali bisa maklum.
but still, kancah seperti itu tetap saja menimbulkan gairah tersendiri. and gak tau sejak kapan, aku begitu sangat sangat sangat menikmati sebuah pagelaran fesyen. padahal, dulu aku sempat merasa terjebak didalamnya. ya, lebih terasa sebagai perangkap yang mengerikan.
but look at me now.
datang tepat waktu. ngambil beberapa shoot sejumlah fashionista jakarta yang taat dresscode. kasak kusuk bareng sejumlah desainer yang kebetulan ketangkep lagi nggosip
duduk dengan tenang di baris depan. memindah mode hp menjadi silent. mengusahakan tak tergoda membahas dengan teman sebelah. khusyuk. fokus. yah.. thats me now.
mungkin karena manusia, pada dasarnya mampu beradaptasi. -sepanjang dia mau- atau mungkin karena pada dasarnya aku memang menyukainya, hanya selama ini sekadar jaim atau apa lah, tanpa aku sadar. but actually its really fun. sebetulnya gak beda jauh ama menikmati hasil karya seni lain, apapun bentuknya. aku selalu menunggu kejutan-kejutan saat fashion show. kegilaan sedikit lah. betul-betul desain idealis sang perancang, tanpa peduli pasar. ya.. kalo 10 baju, dua diantaranya model yang uedaaan pisan lah.
dan setelahnya, ada pertanggungjawaban dalam tulisan. menceritakan kembali apa yang aku alami. tentu saja, ini menjadi masalah interpretasi pribadi. aku sebisa mungkin menghindarkan diri dari beropini. sebetulnya sangat ada keinginan untuk lebih beranjak dari sekadar deskripsi pake bahan apa, motifnya gimana, teknik jahit pake apa, siluet a line atau sekadar main layering. jujur… aku sangat ingin beranjak dari situ. tapi juga tak berani beropini ria. tidak begitu. harusnya sebuah halaman laporan fashion show ialah sebuah laporan yang deskriptif juga memberi pencerahan. baik bagi deignernya. sekaligus bagi konsumen. cuma.. ternyata oh ternyata… begitu banyak yang harus dilakukan.
yang paling penting ialah riset bahan. saat ingin memberikan sebuah gelitikan bagi perancangnya, maka akan baik jika membandingkan dengan karya sebelumnya. bukan perbandingan baik atau buruk, bukan perbandingan pendapat. tapi lebih kepada perbandingan fakta. apa yang ia buat tahun lalu, lalu seperti apa karyanya tahun ini. apakah beranjak? atau tidak?
beberapa komentar dari pembaca masuk ke redaksi. “makasih ya mbak. fotonya bagus-bagus. banyak. tulisannya jelas. jadi bisa dicontoh buat model.” ya, yang komentar begitu ialah para pelaku modiste kecil-kecilan. mereka klipping. dan menunjukkan pada pelanggan. mereka cerita begini, “biasanya aku bilang gini sih. liat aja di mi. banyak model kok,”
entah kenapa ya. saat teman yang menulis di sebuah majalah hip merasakan kepuasaan saat perancang yang karyanya ia review, berterimakasih, aku malah merasa lebih puas saat mendapat komplimen dari “orang-orang biasa”
ya iyalah, si desainer sih bakal say tengkyu lah. apakah itu bener2 tulus atau sekadar basa basi ya itu urusan lain lah ya. karena komplimen itu, jadi muncul semangat untuk lebih mengakomodasi kebutuhan mereka.
senangnya, saat berkisah tentang kegelisahan ini, ada yang menyambut baik. ia juga membuka jalan menuju kesana. aku belum melihat seberapa lebar. tapi paling tidak, ada jalan. sembari berbisik, seorang designer lain berucap: “ayo. kamu itu bisa kok jadi wartawan fesyen yang disegani. yang doain banyak loh ca…”
drughh!!!!!
heh? seperti apa wartawan fesyen yang disegani? anna wintour yang bisa mengintimidasi seseorang designer? atau kalo lokal, ya tante harian kini yang ramah dan hangat, tapi entah kenapa punya aura jahat dan galak? hm.. i dont want to be like them ya gak pengen aja. kayaknya kok “jahat” banget. aku cuma pengen tetap setia dengan niat mencerdaskan banyak orang. -haha.. sorry. aku gak nemu kalimat yang tidak bombastis
-
bukan dengan menggurui, tapi sejalan juga dengan proses pencerahan yang aku alami. aku gak peduli seperti apa orang lain (baca: wartawan harian) menganggap level wartawan lifestyle apalagi fesyen ada di level cemen. hehehe.. i really dont take any shit.
dianggap kalah level ama anak politik lah. or ekonomi lah. hehehe… entahlah. aku sih cuma ngerasa kalo itu cuma pikiran picik yang bener-bener susah naik kelas. saat budi basuki dari bazaar indonesia, marathon liputan fashion week di new york, milan dan paris, i really believe kalo dia memang bener-bener kerja keras. melakukan sedikit kenekatan yang gila untuk bisa masuk ke fesyen show rumah2 mode terkenal semisal Chanel or Gucci. (ia menyarankan untuk memapah Anna Piaggi, editor Vogue Italia yang sangat sepuh saat melalui pintu masuk). atau pasang muka tambeng buat keluar masuk backstage n curi-curi ngobrol ama orang-orang berpengaruh di dunia itu saat cocktail party. butuh style tersendiri. butuh kelas. karena itu dunia pencitraan yang sangat menomorsatukan tampilan dan materi. lo gak bakal diliat kalo kemampuan ngecipris bahasa inggris lo cuma sekedar jadi guide dadakan di jogja. atau ternyata mata lo kosong-kosong aja waktu ngomongin strategi Robert Duffy buat Marc Jacobs. atau style lo gak meyakinkan banget meski pake label armani atau louis vuitton tapi gak biasa nggaya, jadinya malah ndeso dan gak stylish sama sekali. hehehe… -akhir akhir ini aku mulai merasa makin gak nyaman ama seragam biru yang makin bluwak. menyulitkan upaya mingle ke dalam dunia the have. ini kan bagian dari mimikri. gak tll jauh beda ama tampilan wartawan investigasi yang (katanya)sangat bergengsi itu saat harus melakukan investigasi kan?:P
aku menyukai apa yang aku jalani, meski awalnya bukan pilihan. aku juga sedang tidak membuktikan apakah aku lebih hebat atau apa. cuma sedang melakukan apa yang pada akhirnya aku nikmati. bukan sekadar alasan uang. apalagi sekadar produk-produk sample yang mahal, yang rutin dialamatkan hampir setiap bulan. sama sekali bukan. itu aja sih. ya, itu aja.