no need to race about : I cannot always choose my battlefield

May 27, 2007

menikmati minggu

Filed under: cacatan - Administrator @ 9:48 pm

membiarkan hari tanpa keinginan meliput yang meletup, ternyata makin sulit buat saya. hah!!! my friend who writes for Ad Diction comment “gila lo. jangan-jangan kamu udah digembala pekerjaanmu” hehehe. pasrah, deh. meski berulang kali saya teriak-teriak, its hobby. really,..a hobby which get paid. lantas dia akan kembali bersilat.. “kalo cuma hobby, trus kenapa tiap hari minggu lo ngecek semua koran yang terbit dan gampang terintimidasi hanya karena mbak baik yang tampak galak itu diajak edo fesyen show ke tokyo, sementara lo sama sekali gak nulis buat sekadar info padahal lo tau dari si fa’ dan lo juga udah nelponin bang edo buat minta info?” huehuehue.. panjang lebar. dan saya cuma bisa ketawa-tawa. capeek deehh…

tapi hari ini saya sukses melewatkan liputan. hihihi.

juga sukses tak meluluskan keinginan menyusuri jakarta untuk memancing ide dua minggu kedepan. juga tak merasa terintimidasi ketika ada tulisan sneakers masuk ke harian kini, padahal saya sudah merencanakan saat koleksi converse premium launching, kelak.

mungkin karena penulisnya sama sekali tak menyebut outlet sneakers bergengsi di citos yang khusus memajang koleksi premium limit edition yang membuat orang rela ngantri berbaris-baris demi sebuah sepatu sneakers yang nyampe 15 juta itu.

kesan yang timbul memang lebih terkesan sebagai tulisan yang diadakan karena ia tak punya bahan. mbak satu itu memang jarang muncul dalam banyak perhelatan. apalagi kalo cuma pagelaran tenant di mall. kecuali hajatan elit para desainer yang tenar atau sesepuh dunia fesyen, dipastikan ia tak akan kelihatan.

atau mungkin juga, saya tak merasa terintimidasi karena merasa beban perasaan paling tolol (karena salah menulis brand, loreal professionnel saya tulis menjadi loreal professionel ) sedikit terangkat ketika tulisan duet MH dan Iv salah menyebut nama dan institusi narasumber tarot. juga pada sumber tunggal dalam penulisan yang tak mencerahkan awam.

hah! ngritik tulisan orang emang paling enak. hehehehe.. belum tentu siap membuka hati lebar-lebar untuk dikritik orang :) hehe. bisa dipahami bagaimana para fashion police bisa sangat bitchy mementahkan usaha seseorang untuk tampil eye catching dengan keluaran terbaru branding wahid, kan? ngomentarin orang emang paling enak dan gampang. :P

ah, sudahlah. membiarkan sesuatu yang sudah terjadi pergi, lebih membuat langkah ke depan menjadi lebih ringan meski harus tetap hati-hati. hari minggu yang menyenangkan karena bersama si schaat nekat menuju gandaria untuk soto madura (tanpa ceker ayam karena kami datang selepas jam makan siang) dan menonton film anyar rudy soejarwo- mengejar mas mas- yang menggelitik meski potensial bertele-tele.

—>btw, soto madura dengan ceker ayam itu bernama soto ranjau. cuma sebuah gerobak soto di dekat taman gandaria depan apartemen gandaria. murah meriah dan nikmat (mungkin karena kelaparan. hahaha). referensi didapat dari Djakarta yang makin sulit didapatkan gratis.

seusai semua kegiatan itu, hari sudah menjelang sore dan saya selamat dari keinginan liputan demi mendisiplinkan libur untuk diri sendiri TANPA RASA BERSALAH SAMA SEKALI. alhamdulillah.

May 18, 2007

manusia sampel

Filed under: cacatan - Administrator @ 9:04 am

-disclaimer: tulisan ini berupa opini pribadi, tidak mewakili pendapat institusi di mana saya bekerja -

jika lo bekerja di sebuah media, dan bertanggung jawab atas desk lifestyle yang juga bertugas menginformasikan produk baru, maka dapat dipastikan lo akan menerima kiriman produk-produk sampel.

sebelum produk itu dijual, lo dapet sampelnya. gratis, tentu. asik? belum tentu.

yang utama ialah, godaan untuk mencoba. kalao cuma baju yang dicoba, saat lo gak cocok, ya udah. lo lepas aja, dan badan lo gak bakal gatel-gatel atau tiba-tiba luka basah. kecuali kalo lo pake baju sampel bekas kena terpentin. :)

tapi, kalo produk kosmetika, well… mbak-mbak di front office, dengan taktik puppy eyes, selalu berusaha agar sampel-sampel itu mampir di wajah atau rambut mereka. -not a big deal. kecuali untuk sejumlah brand :) -

lalu aku tertarik mencoba lancome. hehehe. seperangkat krim, lengkap banget dari buat bersihin, toner, krim pagi, krim malam, plus spot corrector. formulanya lembut. ringan. dan terasa water based soalnya gak sticky di kulit. ngeresap cepat dan bikin kulit kenyal juga terasa nyaman. seperangkat krim terbaru SKII terasa too sticky for my skin (mungkin karena umur yang belum tua..ho ho ho..) walaupun mereka punya produk pembersih dan air touch foundation yang oke. tapi krim lancome, enggak lengket buat kulitku. well, kontainernya mungil-mungil sih. hanya cukup untuk konsumsi satu bulan. dan setelah semua usai….eng ing eng…. masalah baru dimulai.

yang tadinya kulit berasa baik-baik aja pake sabun lifebuoy clearskin saat berjerawat, sekarang mulai rewel. pelembab juga mesti adjustment lagi. for me, olay is quite good for the price. tapi, sekarang jadi perlu penyesuain lagi. fiuh. i know its time to back to my doctor. cuma sekadar mencapai level sehat, karena gak bisa dipungkiri, pekerjaan ini membuat gue terpapar sinar matahari dalam akumulasi waktu yang tidak sebentar. bener deh gak pengen putih. cukup cling sehat. dan coklat. healthy tanned, gitu.hehehehe

dan sekarang, saya terbayang-bayang masalah baru. kalo shampoo dan hair tonic kerastase (yang juga sampel dan rasanya hanya bakal bertahan dua bulan) habis bis bis. apa harus maksa beli ya? ggrrrr. soalnya ngefek lumayan yahud. orang-orang dekat yang dua bulan lalu wanti-wanti agar saya nggak manjangin rambut (soalnya bakal jelek banget dan gak sehat dan gak tampak rapi dan lain lain) sekarang bisa bungkam. berasa sweet revenge banget deh. :)

ya, ya, gue tau. emang kudu modal sih :P tapi kok kayaknya masih sayang banget sih ama harga-harga yang masih sulit masuk akal untuk sebuah shampoo. (ini bukan pelit. ini masalah gak mampu :p)

so, ya itu termasuk resiko yang mesti gue bayar. apa nanti setelah itu, rambut gue bakal rontok karena pake produk low end lagi, ya termasuk resiko yang kudu dibayar. namanya juga coba-coba. pas gak sukses, ya lu coba yang lain. pas sukses, lo punya dua pilihan. nerusin tapi ngorbanin hal lain semisal menabahkan diri makan di kafetaria kantor pake kupon makan dan menggertak diri sendiri untuk menyelesaikan project-project yang sudah dipercayakan. atau berhenti dan bayar resiko ngalamin rambut yang biasa-biasa aja lagi.

sepertinya sih prefer yang pertama, ya. karena ada semangat fight buat sesuatu yang lo tau udah baek buat lo.

dan semua rangkaian hidup, emang coba-coba kan. sama seperti kerjaan. lo coba, lo berasa seneng. lalu ketemu titik betenya. lalu lo baka punya dua pilihan. bertahan ama kerjaan itu karena lo tau itu bikin lo seneng banget, tapi lo mesti ngefight hal lain untuk mencukupi kebutuhan hidup yang makin naik.atau lo sudahi dan berpindah dengan percobaan baru = kerjaan baru. sama kayak lo ketemu orang, lo coba jalan. saat mentok, sebetulnya lo selalu punya dua pilihan. seperti analogi produk sampel itu tadi.

=hahaha. kesimpulannya cemen gini seehh=

May 16, 2007

janjian

Filed under: cacatan - Administrator @ 10:14 pm

susahnya janjian ketemuan di jakarta, mungkin bisa dianalogikan dengan sulitnya mencari taksi berargo di bandung. Bedanya, nunggu taksi di bandung, sejauh pengalaman saya, sekitar 30 menit. tapi batal janjian ketemuan di jakarta, malah-malah baru bisa ketemuan seminggu atau sebulan lagi.

tentu janjian itu bukan dalam konteks janjian hang out ama temen. -biasanya yang ini lebih dimaklumi kalo gagal- juga bukan dalam konteks janjian wawancara atau brainstorming awal ama (calon) narasumber.-karena kalo yang ini tergolong label mulia:tuntutan pekerjaan-

yang saya maksud disini ialah janjian untuk projek-projek kreatif baru yang menyegarkan rutinitas. jelas ada embel-embel duitnya. dan itu pun ternyata belum mampu memotivasi. hahaha.

seminggu ini, saya jungkirbalik menata jadwal. dua tante berputra abg yang baik hati mengajak saya turut serta dalam proyek kreatifnya. buat saya, jelas menyegarkan dan menawarkan tantangan. sesuatu hal yang baru dan menuntut pembelajaran. tapi oh oh.. susah banget ketemuan. tantae-tante itu sibuk wira wiri kesana kemari tiap hari. sebentar tender di kantor departmen, sebentar di plasa senayan meeting ama rekanan, lalu entah kemana lagi. sementara waktu yang 24 jam itu rasanya memang menguap cepat jika lo bekerja di media cetak atau televisi. berbincang di telepon untuk melepas kangen, oke. berbincang di telepon untuk sebuah pekerjaan tandem, rasanya terlalu gamang. apa hanya karena aku belum menjadi manusia kabel?

jakarta, barangkali, memang terlalu kejam untuk hubungan antar manusia. macet dimana-mana. tenggat deadline di setiap pekerjaan. parah. sangat buruk. dan hubungan emosional terdigitasi dalam sejumlah emoticon yahoo messenger atau singkatan kata penghemat baris sms: I L U. I M U. oh.oh..

coba bertanya pada diri sendiri. kapan terkahir ketemuan ama orang yang lo akuin sebagai teman dekat? atau sahabat? atau, kapan terakhir hang out santai ama temen-temen lama (biasanya, semakin tua, orang akan semakin sedikit teman meski bertambah banyak kenalan) sudah lama kah? kalau begitu salahkan jakarta. hahaha

-huh. pengen banget pindah dan menetapdi kota yang nggak macet, bisa nulis, tetep bisa jalan-jalan, punya bisnis yang mapan. hehehe. Bali, ok gak ya? atau Jogja? tentu saja setelah new york.hehehe.. teteeepppp!!!-

May 15, 2007

big fashion: big trouble

Filed under: cacatan - Administrator @ 10:40 am

susahnya nyari bahan buat big fashion. i try so hard.. menelusuri butik-butik kecil di kemang. outlet. sampai pgc. belum nyoba tanah abang karena dah serem dulu ama bayangan crowdednya. kalo untuk baju standar, ada satu outlet di pgc sana. ya bener-bener standar. blus biasa banget. dengan potongan yang jatuh kaku sangat tidak sempurna. and all i get just a next question: apa iya jalan satu-satunya pergi ke tukang jahit?

masih inget sih mas pengamat gaya hidup, samuel mulia, itu bilang, ubah sesuatu yang bisa diubah, syukuri sesuatu yang gak bisa diubah. ia lebih suka menyemangati untuk berubah langsing. tapi designer mardiana ika lebih suka menyamarkan lipatan-lipatan lemak pada perut. thats why dia bikin rancangan dengan detil slashing -sejenis kain yang dipotong serong trus dijahit lagi ke bahan dasar baju-, membentuk sulur-sulur horisontal, vertikal atau diagonal yang bertemu di garis tengah. but still, dia tentu pasang harga dong. fashion is (not) for everyone. ini masalah diskirimasi.

aku emang suka terlihat langsing. mungkin karena aku gak tinggi. mungkin juga karena aku suka liat cici lintang ngiri. hahahahhaha.. tapi yang jelas, rasanya lebih enteng dan praktis buat beraktivitas. so far, belum ada masalah. masih di range aman buat nyari baju di orange yang sangat mango wannabe, misalnya. tapi sedih juga sih, betapa hak untuk tampil stylish aja mesti diperjuangkan mati-matian.

and for the next edition, after all that event, i’ll write about a to z in big fashion. i hope it will keep the spirit for everyone who has big trouble for being stylish.

May 14, 2007

fashion reporter yang disegani. Ughh!

Filed under: cacatan - Administrator @ 11:41 pm

Di Jakarta, 11-17 Mei mendatang, ada sebuah kegairahan. Bertajuk Jakarta Fashion& Food Festival. Bertempat di Kelapa gading.

Well, its simply like jakarta fashion week nya lah. Tiap malem ada fesyen show. ya tentu saja skala lokal. perancang daerah yang didaulat unjuk gigi di jakarta. aku sendiri sih melihatnya sebagai upaya yang sangat-sangat positif. meski sebetulnya, jujur, duduk di deretan depan yang bisa liat detil, sangat-sangatlah dilematis. ngantuk. ngebosenin. tapi aku masih sangat ingin berlaku manis dengan tidak tertawa terbahak-bahak saat model pria memeragakan kimono full bunga atau ngantuk berat saat kain dicacah menjadi rumbai yang menutupi rok panjang didalamnya. oh my god.hare geneee.. pake model korden gitu? halah. kalo anak sekolah yang presentasi barangkali bisa maklum.

but still, kancah seperti itu tetap saja menimbulkan gairah tersendiri. and gak tau sejak kapan, aku begitu sangat sangat sangat menikmati sebuah pagelaran fesyen. padahal, dulu aku sempat merasa terjebak didalamnya. ya, lebih terasa sebagai perangkap yang mengerikan.

but look at me now. datang tepat waktu. ngambil beberapa shoot sejumlah fashionista jakarta yang taat dresscode. kasak kusuk bareng sejumlah desainer yang kebetulan ketangkep lagi nggosip :P duduk dengan tenang di baris depan. memindah mode hp menjadi silent. mengusahakan tak tergoda membahas dengan teman sebelah. khusyuk. fokus. yah.. thats me now.

mungkin karena manusia, pada dasarnya mampu beradaptasi. -sepanjang dia mau- atau mungkin karena pada dasarnya aku memang menyukainya, hanya selama ini sekadar jaim atau apa lah, tanpa aku sadar. but actually its really fun. sebetulnya gak beda jauh ama menikmati hasil karya seni lain, apapun bentuknya. aku selalu menunggu kejutan-kejutan saat fashion show. kegilaan sedikit lah. betul-betul desain idealis sang perancang, tanpa peduli pasar. ya.. kalo 10 baju, dua diantaranya model yang uedaaan pisan lah.

dan setelahnya, ada pertanggungjawaban dalam tulisan. menceritakan kembali apa yang aku alami. tentu saja, ini menjadi masalah interpretasi pribadi. aku sebisa mungkin menghindarkan diri dari beropini. sebetulnya sangat ada keinginan untuk lebih beranjak dari sekadar deskripsi pake bahan apa, motifnya gimana, teknik jahit pake apa, siluet a line atau sekadar main layering. jujur… aku sangat ingin beranjak dari situ. tapi juga tak berani beropini ria. tidak begitu. harusnya sebuah halaman laporan fashion show ialah sebuah laporan yang deskriptif juga memberi pencerahan. baik bagi deignernya. sekaligus bagi konsumen. cuma.. ternyata oh ternyata… begitu banyak yang harus dilakukan.

yang paling penting ialah riset bahan. saat ingin memberikan sebuah gelitikan bagi perancangnya, maka akan baik jika membandingkan dengan karya sebelumnya. bukan perbandingan baik atau buruk, bukan perbandingan pendapat. tapi lebih kepada perbandingan fakta. apa yang ia buat tahun lalu, lalu seperti apa karyanya tahun ini. apakah beranjak? atau tidak? beberapa komentar dari pembaca masuk ke redaksi. “makasih ya mbak. fotonya bagus-bagus. banyak. tulisannya jelas. jadi bisa dicontoh buat model.” ya, yang komentar begitu ialah para pelaku modiste kecil-kecilan. mereka klipping. dan menunjukkan pada pelanggan. mereka cerita begini, “biasanya aku bilang gini sih. liat aja di mi. banyak model kok,”

entah kenapa ya. saat teman yang menulis di sebuah majalah hip merasakan kepuasaan saat perancang yang karyanya ia review, berterimakasih, aku malah merasa lebih puas saat mendapat komplimen dari “orang-orang biasa” ya iyalah, si desainer sih bakal say tengkyu lah. apakah itu bener2 tulus atau sekadar basa basi ya itu urusan lain lah ya. karena komplimen itu, jadi muncul semangat untuk lebih mengakomodasi kebutuhan mereka.

senangnya, saat berkisah tentang kegelisahan ini, ada yang menyambut baik. ia juga membuka jalan menuju kesana. aku belum melihat seberapa lebar. tapi paling tidak, ada jalan. sembari berbisik, seorang designer lain berucap: “ayo. kamu itu bisa kok jadi wartawan fesyen yang disegani. yang doain banyak loh ca…” drughh!!!!!

heh? seperti apa wartawan fesyen yang disegani? anna wintour yang bisa mengintimidasi seseorang designer? atau kalo lokal, ya tante harian kini yang ramah dan hangat, tapi entah kenapa punya aura jahat dan galak? hm.. i dont want to be like them ya gak pengen aja. kayaknya kok “jahat” banget. aku cuma pengen tetap setia dengan niat mencerdaskan banyak orang. -haha.. sorry. aku gak nemu kalimat yang tidak bombastis :P -

bukan dengan menggurui, tapi sejalan juga dengan proses pencerahan yang aku alami. aku gak peduli seperti apa orang lain (baca: wartawan harian) menganggap level wartawan lifestyle apalagi fesyen ada di level cemen. hehehe.. i really dont take any shit.

dianggap kalah level ama anak politik lah. or ekonomi lah. hehehe… entahlah. aku sih cuma ngerasa kalo itu cuma pikiran picik yang bener-bener susah naik kelas. saat budi basuki dari bazaar indonesia, marathon liputan fashion week di new york, milan dan paris, i really believe kalo dia memang bener-bener kerja keras. melakukan sedikit kenekatan yang gila untuk bisa masuk ke fesyen show rumah2 mode terkenal semisal Chanel or Gucci. (ia menyarankan untuk memapah Anna Piaggi, editor Vogue Italia yang sangat sepuh saat melalui pintu masuk). atau pasang muka tambeng buat keluar masuk backstage n curi-curi ngobrol ama orang-orang berpengaruh di dunia itu saat cocktail party. butuh style tersendiri. butuh kelas. karena itu dunia pencitraan yang sangat menomorsatukan tampilan dan materi. lo gak bakal diliat kalo kemampuan ngecipris bahasa inggris lo cuma sekedar jadi guide dadakan di jogja. atau ternyata mata lo kosong-kosong aja waktu ngomongin strategi Robert Duffy buat Marc Jacobs. atau style lo gak meyakinkan banget meski pake label armani atau louis vuitton tapi gak biasa nggaya, jadinya malah ndeso dan gak stylish sama sekali. hehehe… -akhir akhir ini aku mulai merasa makin gak nyaman ama seragam biru yang makin bluwak. menyulitkan upaya mingle ke dalam dunia the have. ini kan bagian dari mimikri. gak tll jauh beda ama tampilan wartawan investigasi yang (katanya)sangat bergengsi itu saat harus melakukan investigasi kan?:P

aku menyukai apa yang aku jalani, meski awalnya bukan pilihan. aku juga sedang tidak membuktikan apakah aku lebih hebat atau apa. cuma sedang melakukan apa yang pada akhirnya aku nikmati. bukan sekadar alasan uang. apalagi sekadar produk-produk sample yang mahal, yang rutin dialamatkan hampir setiap bulan. sama sekali bukan. itu aja sih. ya, itu aja.

May 9, 2007

trauma dot com

Filed under: cacatan - Administrator @ 8:56 pm

aduh. deg-deg annya belum selesai. communicator yang dibanting itu, masih berasa bikin lutut lemes gak karuan. mual tak tertahan. huh.. percuma deh sandwich bakar yang yummi.

serem banget sih. jadi bikin takut. jadi inget pengalaman dua tahun silam. kemana-mana di tanyain. aku jadi nggak bisa leluasa berteman karena kasihan : temanku pasti kecipratan curiga plus jelous yang gak jelas. meski gak pernah kena gampar, tapi tanda-tandanya cukup jelas. doyan mukul-mukulin kepala sendiri kalo dia lagi berasa kesel dan marah. hobi banting apapun yang ditangan saat tersulut marah. mulai dari hp sampei botol teh sosro. gak malu ribut di jalan n marah-marah in orang di area publik. astaga, seram. untung masih bisa keluar dari relasi yang berbahaya level akut itu. dan selamat.

tapi malam ini, ingatan itu dateng kembali lewat orang lain. sukses membuat aku berdiam lama di kamar mandi dan mulai mbrebes mili. hiks.

-im so sorry. pantesan aku berasa pengen banget dateng ke acaranya valentino dan bebe. mungkin kalau dateng, aku bisa terselamatkan dari kondisi tak mengenakkan ini. tapi ya sudahlah, mungkin memang sudah seharusnya terjadi. ada orang yang menanggung beban lebih berat dari sekdar trauma yang aku rasain. im so sorry for them-

May 8, 2007

setelah nyaris satu bulan

Filed under: cacatan - Administrator @ 7:24 pm

nyaris satu bulan nggak ngeblog. padahal ada beberapa sih yang bisa ditulis. perjalanan di jogja dengan waktu yang berjingkat malas. juga waktu-waktu yang terasa tak bersahabat mengerjakan kerjaan sampingan yang menjanjikan fulus. hehehe. juga cara baru mengorganisir jaringan. juga pengalaman baru nontonin band punk, NOFX, sampe kejedot pagar pembatas. juga panggung-panggung fesyen yang makin sering, juga liburan pendek di bandung bertema panic shoe-paholic

tapi belum bisa nulisnya. lagian ada hal yang buat aku penting banget, tapi punya tenggat tak lebih dari satu bulan ke depan.

apapun itu, aku bersyukur atas semuanya.

yang perlu kulakukan, ialah untuk berusaha menjaga pendengaran dengan sebaik-baik akal. - menuruti kata cici lin tentang sebuah hadits- :P

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King