pernah dengar istilah PDD? atau malah mengalaminya sendiri?
PDD yang ini bukan singkatan Pe De Deeeehhh..
tapi yang saya maksud, Premenstrual Dysphoric Disorder.
yup. yang itu. yang menyerang sebagian besar perempuan, satu kali sebulan.
yang menjadi penyebab segala swing mood yang gak masuk akal.

jadi begitulah, sebulan sekali, para perempuan mengalami siklus menstruasi.
berdasar riset , sekitar 85% perempuan yang telah menstruasi, mengalami perubahan fisik dan psikis saat menstruasi. umumnya, menjelang dan diakhir. namun, kondisi ini juga umum ditemukan saat menstruasi berlangsung.
secara fisik, biasanya perempuan merasakan nyeri yang amat sangat di area sekitar perut. hal itu terjadi saat sel telur melepaskan diri dari ovarium. secara psikis, seorang perempuan bisa mengalami depresi sebagai kondisi lanjutan dari gejala PMS (premenstruated syndrom)
Dr Guy E Abraham (Fakultas Kedokteran UCLA, AS) menggolongkan PMS berdasar gejala, menjadi empat golongan. Yaitu PMS tipe A, H, C, dan D. tapi, ia mengingatkan, seorang perempuan tidak selalu dapat dikategorikan dalam satu golongan saja. Karena banyak juga yang mengalami gejala gabungan dari beberapa tipe. - yup. i know it. im that one-
Tipe A [Anxiety]
gejala: cemas, sensitif, saraf tegang, dan perasaan labil. beberapa wanita bahkan mengalami depresi ringan sampai sedang.
Saran: Konsumsi makanan berserat, jangan merokok dan batasi asupan kafein dari kopi, teh, dan cokelat.
Tipe C [Craving]
gejala pembengkakan pada perut (kembung), nyeri pada buah dada, tangan, kaki, serta terjadi peningkatan berat badan. biasanya terjadi karena asupan garam dan gula yang tinggi pada penderita. gejala pada tipe ini dapat juga dirasakan bersamaan dengan tipe-tipe lain.
Saran: kurangi asupan garam, gula, dan jumlah cairan yang masuk ke dalam tubuh.
Tipe D [Depression]
gejala: sering lapar, ingin ngemil yang manis-manis (cokelat) dan karbohidrat sederhana. biasanya setelah menyantap dalam jumlah banyak muncul gejala hipoglikemia seperti kelelahan, jantung berdebar, pusing, terkadang sampai pingsan. gejala ini muncul karena peningkatan hormon insulin.
Saran: perbanyak konsumsi sayuran hijau, biji-bijian, gandum, dan kacang-kacangan.
Tipe H (Hyperhydration)
gejala: muncul keinginan menangis, lemah, gangguan tidur, pelupa, bingung, sulit berkata-kata, bahkan muncul rasa ingin bunuh diri atau mencoba bunuh diri. biasanya tipe ini berlangsung bersamaan dengan tipe A.
Saran: tingkatkan konsumsi vitamin B6 dan magnesium.
ehm..beratttss!!! tapi kebanyakan orang abai, karena ini dianggap kondisi alami yang hilang dengan sendirinya begitu periode menstruasi berakhir. fiuhh.. tadinya saya nggak percaya bakal tergolong dalam “perempuan menyebalkan yang depresif” apalagi, saya nggak pernah ngerasa masalah tuh ama urusan menstruasi. sehat-sehat aja. gak pernah sakit atau apa. tapi itu dulu… sebelum 27 tahun. karena memang..gejala ini biasanya dialami perempuan usia 25-35. melonjak parah mendekati usia 30. yeah..yeah….
efek fisik seperti sakit perut edan-edanan atau lemes, pegel-pegel dan pusing seharian, bisa saya hadapi dengan gagah. tapi masalah psikis.. ya ampuunn… tobat banget. nyerah. saya memilih untuk menikmati saja. kadang-kadang sembari ngambil posisi duduk bersila, ngambil nafas-nafas panjang. teteppp… air mata bercucuran. hiksss… saya tahu, saya tergolong perempuan yang harus merasai kutukan PDD. hiks
emang sih…kayaknya sih cuma sebulan sekali ya.. tapi pada nyatanya, efek psikis tersebut berlangsung beberapa hari. untuk kasus saya sendiri, biasa terjadi 7-14 hari.
malahan, bagi perempuan dengan siklus haid pendek, bisa jadi ia hanya bebas dari rasa tersiksa akibat PDD hanya selama satu minggu saja.
biasanya, gejala PDD yang kerap dirasakan ialah depresi, rasa putus asa, pikiran-pikiran yang mencela diri sendiri. tegang, gelisah, kadang-kadang justru muncul perasaan yang sangat gembira, labilitas afek (perasaan tiba-tiba sedih, menangis, sangat sensitif terhadap penolakan), perasaan marah yang menetap, iritabilitas, dan peningkatan konflik interpersonal, penurunan minat dalam aktivitas sehari-hari (sekolah, pekerjaan, teman, dan hobi), secara subyektif merasa sulit berkonsentrasi, letargi, mudah lelah, kurang energi yang jelas, perubahan nafsu makan (meningkat atau menurun), insomnia atau hipersomnia dan secara subyektif merasa gembira berlebihan.
Apa penyebabnya?
-Psikososial. menurut teori psikoanalisis, gejala-gejala PDD merupakan manifestasi dari konflik peran sebagai wanita. haid diartikan sebagai suatu stimulus yang mengancam konflik yang telah direpresi. Secara tidak sadar, penderita PDD menggunakan fungsi haidnya untuk menyatakan ketegangan sebagai akibat situasi lingkungan yang menekan, kesukaran dalam hubungan antarpribadi, atau oleh sikapnya sendiri terhadap kewanitaannya.
-Genetik. Sekitar 70% anak perempuan dengan ibu penderita PDD juga menderita PDD. pada kelompok kontrol (ibu yang tidak menderita PDD) didapat angka sekitar 37%.
-Biologis. berbagai teori neuroendokrin telah dilaporkan sebagai penyebab PDD. berarti, antara lain keseimbangan hormon esterogen dan prosgesteron berperan besar. Juga hormon tiroid, endorfin, prostaglandin, dan lain-lain.
Lalu, solusinya?
dengan terapi. karena bila tidak diobati, PDD dapat berlangsung kronik. perempuan yang mencari pengobatan biasanya berusia 30-an. Keluhan biasanya memang menjadi lebih berat di atas usia 30 tahun, dan baru terlewati saat usia mereka diatas 45 tahun.
Ada lebih dari 50 metode terapi yang dianjurkan untuk PDD. Banyaknya terapi menunjukkan, tidak ada terapi yang spesifik. Berikut beberapa contoh terapi:
1.Psikoterapi
Efektif untuk menghilangkan gejala-gejala PDD. Terapi suportif dan terapi kelompok dapat digunakan. Penderita akan merasa lebih baik karena mendapat dukungan kelompok, lebih mengerti tentang gejala-gejala yang terjadi, tahu bahwa dirinya tida sendirian, mengurangi rasa bersalah, membantu menghindari stres, dan memperbaiki kepercayaan diri. Keberhasilan terapi ini mencapai 40-50%, sekaligus membuktikan besarnya peran psikologis dalam kasus-kasus PDD.
2.Latihan Fisik. Keluhan PDD jarang ditemukan pada wanita yang aktif berolahraga. Olahraga dikaitkan dengan penurunan stres.
3.Diet Hindari kopi dan rokok. Kurangi juga kadar gula. Minum susu sangat dianjurkan. Beberapa penelitian menyatakan, Vitamin A, E, B6, Ca carbonat, Mg, dan Zn dapat mempebaiki PDD.
4.Terapi Farmakologik Secara umum, terapi farmakologik hanya dapat diberikan di bawah pengawasan seorang dokter. Misalnya dalam bentuk pemberian obat, penyeimbangan hormon, terapi cahaya, pembedahan, dan sebagainya.
hhhhh….
mengertikah rasa kosong ini juga sesungguhnya tak ingin dirasakan? kutukan tiap satu purnama ini sebetulnya tak meminta banyak. sungguh. tak meminta banyak. hanya karena memang terlunta. hanya karena tak berdaya.
-sungguh, itu pun tak pernah cukup menjadi alasan untuk bersandar pada orang lain. karena kita harus selalu terbang dengan kekuatan kepak sayap sendiri. ya, ya,.. saya tahu. saya mengerti. seperti yang kau ajarkan berulangkali lewat kata dan laku. jangan pernah mengandalkan manusia. ia hanya akan membuatmu kecewa-
tulisan bersumber dari rubrik sehat, media indonesia minggu 16 agustus 2006 dengan penyesuaian (untuk tampilan blog) disana sini.