marianne katoppo
senin. hari kedua bekerja, QQ datang bawa kabar. penulis raumanen itu tutup usia. Henriette Marianne Katoppo (64), berpulang sehari sebelum idul fitri. -ah gini nih hasilnya kalau putus hubungan dengan internet-
lalu petikan gitar Dan tidurlah -Andra and the backbone mengantar lamunan sesaat
-saya ingat hari itu. sekitar setahun silam kala QB jalan sunda belum wafat. hujan sore-sore. gerimis. tapi cukup menjadi justifikasi untuk berteduh di toko itu, lalu menduduki sofa empuk warna biru. lalu laki-laki, berkemeja hitam lengan pendek, berkacamata minus berdiri di depan saya. saat berbalik, wajahnya familiar. aduh-kok bisa lupa- dia kan cuma BS, politisi muda besutan PRD yang kemudian mapan di PDIP.
tapi karena dia berbalik, saya jadi melihat sampul muka sebuah novel.tipis saja. dengan sampul muka, yang buat saya, menyiratkan kesendirian yang sangat. sepi. tapi indah. pohon flamboyan di sebuah padang. sebuah cover buku yang sangat puitis. indah tapi nglangut. senada dengan judulnya: raumanen.
ah ya!! itu yang disebut-sebut cici lin. sebagai novel yang indah dan mengharu biru. marianne katoppo. -ah. ini sih penulis era nyokap gue- saya lebih mengenalnya sebagai feminis teolog pertama di Asia. Ia juga yang konsisten menggunakan kata perempuan ketimbang wanita. saat kuliah tingkat tiga -paska putus pacar pertama- saya berkenalan melalui karyanya, Compassionate and Free (1979). ia sudah membahas pandangan perempuan sebagai the others/ liyan.
marianne juga dikenal kritis dengan sikap dan pemikiran kartini. meski sebetulnya, sosok manen yang menderita karena cintanya dikhianati monang (adooohhhhh… bahasanya dangdut sekaliiii ) dan akhirnya memilih mati, kembali masuk ke area kelabu. -apa maumu, marianne?-
namun, novel itu tetap memikat saya. mengundang masuk lorong depresi jika dibaca berurutan dengan norwegian wood
ada sisi diri marianne yang berbeda dengan semangat compasisionate and free, terpapar disana. -ah enaknya penulis, bisa punya banyak dunia, juga banyak pribadi :p -
kami, -aku.cici lin.juga qq dan penari mungil- sempat bertanya tanya sekilas.. manen itu.. apakah marianne. sisi lain yang sentimentil dan romantis. dugh…hh.
lalu QQ membangunkan lamunan: “kenapa Ca? belum sempat ngobrol sama dia dan kucing-kucingnya ya?”
ah.. itu juga. 30 kucing. perempuan tua dan kucing-kucingnya. wartawan kompas jadul banget, trees nio, yang kampiun pada peliputan hubungan internasional, juga berakhir hidup sendiri. dengan kucing yang melolong sedih di apartemennya di New York. (erghhh… apa mungkin adopsi anak tidak populer bagi generasi mereka?? )
sementara doris lessing beroleh nobel nya diusia menjelang 88 tahun. santai dia berucap, mungkin karena dimata panitia, penulis yang lebih tua dari aku sudah pada wafat. (dpt dibaca di strait times edisi singapore)