
im happy with this movie. u can laugh. u can think.. for a while..
and laugh again…
setelah display 21 cineplex penuh ama film-film hantu Indonesia yang seolah-olah bersekongkol bikin kita percaya kalo film indonesia bener-bener nggak mutu, QE cukup memberi harapan. gaya-gaya ala janji joni masih terasa sekali di film besutan dimas jay ini. retro style. -dari pilihan musik sampai interior rumah- but, well.. nothing new under the same sun kan? apalagi kalo masih dibawah matahari jakarta yang audubillah teriknya beberapa hari terakhir ini.
narasi di awal cerita. lalu flashback ke belakang dan kisah mulai berjalan maju -tidak pernah kembali mundur- . beberapa adegan-lari-larian di gang-gang kota jakarta bagian belakang gedung-gedung tinggi masih jadi jualan. seperti si joni (janji joni) kejar-kejaran, juga seperti ringgo dikejar preman(maaf saya menghamili istri anda) dikejar preman.
beberapa scene di daerah kota tua, juga diambil. sampe ada sebuah kafe yang terlihat begitu menyenangkan -alah..dimana coba?-, layaknya kafe-kafe ala bloomsbury london sana. (oh, suddenly i miss that old town)
lalu tentang ketakutan manusia akan tua, akan kesepian, akan kesedirian.
lalu kegamangan saat semua materi tersedia.
lalu pembuangan kembali niat-niat menjadi manusia yang lebih baik.
lalu tentang sebuah niat untuk melompat keluar status tidak bermartabat demia sebuah perasaan sayang.
lalu ada pemain pendatang baru yang miriiiiipppppp sekali dengan dian sastro- yang ini versi chubby nya- hehehe.. i’m not envy but.. hehe.. dian sastro gitu
well, i wont be a spoiller. but this movie give me something to think. film ini tentang gigolo. -dalam film ini terdapat mekanisme psikotes yang kocak diselipkan dalam adegan. tes ini untuk mengetahui apakah anda cocok menjadi gigolo, atau politikus. hehehe-
otak lelaki yang sebagian besar isinya tentang sex itu, secara logika, tentu akan terpuaskan dengan pekerjaan sebagai gigolo. iya to? for them, sex is sex. not love. not such about a heart talk. sex just a sex. (bukan justifikasi ya. its based on science about the brain)
tapi kenapa psk perempuan (lets say pelacur) lebih banyak ketimbang gigolo? -minimal kita bisa mengira-ngira jumlah ini dari laporan media tv yangs ering ngelaporon penggrebekan pelacur dan waria, atau dari fakta ringan sehari-hari hari, atau dari pandangan kultural atas hal ini)
untuk hal ini. jangan pakai lagi asumsi jumlah perempuan jauh lebih banyak dari lelaki. berdasar data sensus terbaru (silahkan cek sendiri) perbandingannya sekitar 51:49. (perbedaan 2% dalam angka 200 juta memang 4 juta. jadi masih ada perdebatan lagi apakah semua psk di indonesia ini berjumlah sekitar 4 juta?)
jadi kenapa pelacur lebih banyak dari gigolo?
hipotesa 1:
pasar gigolo sangat terbatas.
nggak ada pasarnya, ngapin jualan? pasar para gigolo ialah perempuan yang bisa bayar. siapa? ya harus mereka yang kelebihan duit. siapa? apakah perempuan single? -hm.. sepertinya ce single yang kelebihan duit bakal lebih suka pacaran HTS daripada bayar gigolo. urusan hati bowww…hehehe….-
istri orang-orang kaya yang gak tahan ama pernikahannya, punya uang banyak , dan butuh menjaga status pernikahan yang terhormat. kalau suaminya selingkuh dengan ce single yang mandiri, atau bayar psk ekslusif, maka dia juga bisa bayar gigolo. dalam QE, profil perempuan penikmat gigolo yang dimunculkan, rata-rata istri pejabat atau pengusaha kaya.
otak seks perempuan lebih kecil. jadinya, selain yang memang hyper, kebanyakan perempuan gak terlalu mikirin. -perempuan lebih concern ama urusan takut kesepian, takut sendiri and sometimes mikir kalau seks bisa jadi pengikat dirinya dengan pasangan.
hipotesa II:
perempuan nggak punya banyak kesempatan buat cari pekerjaan lebih baik ketimbang psk. saya jelas tidak bicara mengenai profil perempuan2 di perkotaan. silahkan ke indramayu. disana perempuan2 abg dibikin percaya dan yakin bahwa nasibnya hanya sampai mimpi jadi pramuniaga di jakarta yang berakhir menjadi psk di manggabesar atau jatinegara. jika ada sesuatu hal yang bisa dilakukan dan mencukupi kebutuhan mereka di kampungnya sana, apa mereka tertarik ke jakarta jadi pelacur? pilihannya ya jadi psk perempuan itu atau pembantu.
kalau pasarnya enggak ada atau paling tidak minimal, apa jumlah psk perempuan bisa banyak seperti sekarang?
lalu, ini juga jadi pertanyaan: kenapa pembantu rumah tangga, kebanyakan perempuan bukan laki-laki?
dan ini bisa terjawab lugas:
karena perempuan terbiasa mengerjakan tugas-tugas domestik. memasak. mencuci. bersih-bersih rumah.
entah sejak kapan pembagian tugas begini diciptakan? apa iya berbasis pada pemikiran bahwa fisik perempuan lemah daripada laki-laki? lha ngurusin urusan2 domestik itu apa tidak menuntut kerja fisik ektra juga?
hm.. jadi ngelebar ya?
jadi kenapa gigolo lebih sedikit ketimbang pelacur?
aku rasa karena keinginan untuk memberi kesempatan lebih dalam hal-hal strategis, kepada perempuan memang belum merata. bahkan dari perempuan ke sesama kaumnya pun, begitu. misal ibu kepada anak perempuannya. well, mengutip kata-kata pengamat politik yang feminis dari filsafat UI, Rocky Gerung “ini adalah hutang peradaban”
-oh ya. aku belum tau nih kenapa lelaki disebut gigolo dan perempuan disebut pelacur. mereka sama -sama psk-
enjoy QE, then.:)