yang tertinggal
Suatu kesempatan mengantarkan saya pada sebuah pertemuan. Nggak tanggung-tanggung. Nyaris 40 orang tak saya kenal, disodorkan begitu saja malam itu. Menjelang kepergian menuju Karimun Jawa.
Menjadi bagian dari sebuah keriuhan, bukan hal yang asing buat saya.
Toh, setiap hari saya dituntut bertemu orang yang selalu berbeda, terlibat dalam keramaian laksana kembang api.
Menyala, meriah sesaat dan meninggalkan bekas, tidak hanya di angkasa, tapi juga di benak.
Menjadi bagian dari keramaian yang asing, bukan sebuah kondisi yang sulit bagi saya.
Sebuah pertemuan akan berujung pada perpisahan. Sebuah klausul yang tak terbantah. Sedari kecil, saya kenal betul rasa sepi itu. Sejak lambaian tangan sahabat masa kecil saya terlihat dari kaca belakang mobil ayah, saya tahu betul arti meninggalkan dan ditinggalkan.
Pertemuan pertemuan dengan manusia lain pada potongan masa, tak semuanya meninggalkan perasaan yang nyaman. Membuat saya memegang erat hukum pertemuan, “jangan melibatkan diri, jangan melibatkan emosi terlalu jauh, kalau nggak mau rese ngalamin fase nglangut dan sepi”
Namun ada manusia-manusia yang membuat saya begitu berani bertaruh emosi. Kepada mereka, saya tak lagi merasa sepi kala harus melambaikan tangan. Seiring pertambahan usia, saya tak lagi merasa sentimentil, bahkan cenderung membuat saya terlihat sinis dan dingin.
Sampai pada suatu malam.. tanpa banyak kata, kami yang tadinya asing satu sama lain, seolah terbungkam kesibukan menurunkan tas bawaan. tergagap dari tidur yang lelap kala bajaj mulai terlihat.
Jabat tangan.. menutup akhir perjalanan, sebuah kata perpisahan.
“makasih ya.. sampai ketemu lagi” seketika rasa sepi itu mengetuk. pelan, nyelonong begitu saja di keriuhan kami mengucap salam.
Karena esok, saya tahu, semua akan kembali ke putaran hidupnya masing-masing. Terbungkus kesibukan dan tenggelam dalam padatnya jadwal harian.
“Kontak-kontak ya.. sampai ketemu,”
Sungguh, saya tak peduli lagi kalau ini hanya basa-basi. Karena dalam hati saya sungguh-sungguh berdoa.
bahkan kala kami tak akan pernah saling menepati janji, saya sungguh bersyukur pernah ada di fase ini
Bahkan kalau tidak diijinkan atas sebuah pertemuan lagi…