no need to race about : I cannot always choose my battlefield

May 11, 2005

yang tertinggal

Filed under: de journey - Administrator @ 7:51 am

Suatu kesempatan mengantarkan saya pada sebuah pertemuan. Nggak tanggung-tanggung. Nyaris 40 orang tak saya kenal, disodorkan begitu saja malam itu. Menjelang kepergian menuju Karimun Jawa.

Menjadi bagian dari sebuah keriuhan, bukan hal yang asing buat saya. Toh, setiap hari saya dituntut bertemu orang yang selalu berbeda, terlibat dalam keramaian laksana kembang api. Menyala, meriah sesaat dan meninggalkan bekas, tidak hanya di angkasa, tapi juga di benak.
Menjadi bagian dari keramaian yang asing, bukan sebuah kondisi yang sulit bagi saya.

Sebuah pertemuan akan berujung pada perpisahan. Sebuah klausul yang tak terbantah. Sedari kecil, saya kenal betul rasa sepi itu. Sejak lambaian tangan sahabat masa kecil saya terlihat dari kaca belakang mobil ayah, saya tahu betul arti meninggalkan dan ditinggalkan.

Pertemuan pertemuan dengan manusia lain pada potongan masa, tak semuanya meninggalkan perasaan yang nyaman. Membuat saya memegang erat hukum pertemuan, “jangan melibatkan diri, jangan melibatkan emosi terlalu jauh, kalau nggak mau rese ngalamin fase nglangut dan sepi”

Namun ada manusia-manusia yang membuat saya begitu berani bertaruh emosi. Kepada mereka, saya tak lagi merasa sepi kala harus melambaikan tangan. Seiring pertambahan usia, saya tak lagi merasa sentimentil, bahkan cenderung membuat saya terlihat sinis dan dingin.

Sampai pada suatu malam.. tanpa banyak kata, kami yang tadinya asing satu sama lain, seolah terbungkam kesibukan menurunkan tas bawaan. tergagap dari tidur yang lelap kala bajaj mulai terlihat.

Jabat tangan.. menutup akhir perjalanan, sebuah kata perpisahan.

“makasih ya.. sampai ketemu lagi” seketika rasa sepi itu mengetuk. pelan, nyelonong begitu saja di keriuhan kami mengucap salam.

Karena esok, saya tahu, semua akan kembali ke putaran hidupnya masing-masing. Terbungkus kesibukan dan tenggelam dalam padatnya jadwal harian.

“Kontak-kontak ya.. sampai ketemu,”

Sungguh, saya tak peduli lagi kalau ini hanya basa-basi. Karena dalam hati saya sungguh-sungguh berdoa.

bahkan kala kami tak akan pernah saling menepati janji, saya sungguh bersyukur pernah ada di fase ini

Bahkan kalau tidak diijinkan atas sebuah pertemuan lagi…

May 9, 2005

de journey

Filed under: de journey - Administrator @ 11:51 am

Sebuah perjalanan bagi saya, adalah sebuah rentetan kejadian seperti jalinan benang. Bukan tujuan wisatanya, apalagi kepuasan menginjak lokasi tersebut.

Sebuah perjalanan adalah sebuah proses. Menjumpai orang-orangnya. Mengalami kejadian-kejadian. menjadi saksi atas loncatan kisah hidup di saat itu, di tempat itu.

Perjalanan memiliki maknanya sendiri. Dan setiap tempat selalu istimewa, selalu punya arti. Dan kisah-kisah perjalanan saya, tak akan pernah terhenti karena kekesalan ataupun keputusasaan. Setidaknya, demikianlah janji saya.

May 1, 2005

Menuju Titik Barat Pulau Jawa

Filed under: de journey - Administrator @ 12:13 pm

DI PULAU PEUCANG, Ujung Kulon, Banten, manusia hanyalah tamu yang harus berhati-hati dengan barang bawaan. Terutama cokelat dan makanan ringan. Sang tuan rumah, monyet berbuntut panjang, terlalu jahil dan pintar. Anak kunci yang masih tergantung pada pintu yang terkunci, dapat terbuka oleh tangan-tangan mereka. Begitu berbeda dengan perilaku kelompok rusa. Mereka begitu manis, bermanja-manja kepada para tamu yang jatuh hati pada kejinakan mereka. Setelah kenyang , kaki-kaki jenjang para rusa menyusuri hamparan pasir putih pantai Pulau Peucang. Membentuk deretan panjang bersama telapak kaki manusia, monyet dan biawak yang kerap melintas. Jejak-jejak langkah membekas dalam, karena pasirnya memang terlalu lunak untuk dipijak. Mereka melangkah anggun, enggan mengusik laut yang tampak tenang pagi itu, Sabtu (23/04). Berpadu dengan langit yang terlihat cerah setelah dibersihkan hujan kemarin. Kini yang tersisa hanya gumpalan-gumpalan awan putih. Berarak sangat pelan. Tak mampu mengejar laju burung elang yang terbang tinggi diatas permukaan air laut. Sesekali, tiga perahu nelayan yang ditambatkan di dermaga bergoyang perlahan. Sebuah awal yang baik untuk memulai petualangan di Ujung Kulon. Tujuan pertama ditetapkan, menyambangi Mercu Suar di Tanjung Layar.
Dari Pulau Peucang, matahari yang bersinar terang menjadi teman perjalanan kami. Teriknya memacu terbentuknya minyak di permukaan kulit, campuran keringat dan krim penahan matahari yang sengaja dioleskan tebal-tebal. Namun sapaan angin laut selatan, menyisakan kering yang lengket di kulit. Suara hempasan ombak menyapa buritan beradu dengan deru mesin motor perahu nelayan yang kami tumpangi. Daya tampung untuk dua puluh orang yang hanya dipenuhi separuhnya, menyisakan ruang lega untuk duduk meluruskan kaki. Hijaunya pepohonan terlihat di kanan kiri perairan. Bersama-sama hamparan air laut yang biru kehijauan, menyesaki pandangan mata. Ikan-ikan tembang yang terlihat jelas di pantai, kini tertinggal jauh di belakang. Tidak lebih dari 15 menit badan ini mengikuti ayunan perahu, jangkar kembali dilemparkan. Sebuah kapal kecil bermotor mendekat. Tumpangan kami selanjutnya untuk merapat ke pantai sebuah daerah bernama Cibom.
Mengingat posisi pentingnya di perairan selat Sunda, Cibom pernah diupayakan menjadi pelabuhan. Proyek itu dilaksanakan pada masa kekuasaan Pemerintahan Hindia Belanda. Demi sebuah proyek ambisius di jaman itu, Sultan Banten berbaik hati menyediakan tenaga kerja. Namun mimpi yang dimulai sejak 1808 itu tidak kunjung terwujud. Para pekerja banyak yang melarikan diri, tidak kuat akan gas beracun yang muncul di wilayah itu. Sementara yang bertahan, jatuh sakit dan meninggal dunia. Tidak banyak informasi yang tersedia mengenai kejadian tersebut, tapi setidaknya demikian yang terbaca dari papan informasi di sebuah pos di Cibom. Daerah yang menjadi bagian dari Taman Nasional Ujung Kulon itu adalah pintu gerbang menuju Tanjung Layar. Kini kami memasuki taman nasional yang telah ditetapkan UNESCO sebagai situs warisan alam dunia. Kaki yang semula basah bersentuhan air laut, kini menjejak tanah hutan hujan tropis. Gemerisik daun yang bergesekan, beradu dengan suara daun-daun kering yang terinjak. Udara terasa segar, dengan bau kayu basah seolah menempel pada indera penciuman. Suara monyet yang bersautan sesekali diselingi riuh nyanyian Burung Rangkareng. Keberuntungan pagi itu mengijinkan mata menyaksikan lutung yang berayun di dahan Pohon Johar. Sesekali kelebatan sayap elang diantara hijaunya dedaunan tertangkap jelas oleh mata. Namun ketinggian dan kecepatannya tak sempat terjerat lensa kamera. Seperti hari-hari sebelumnya, babi hutan, kijang, ular, macan tutul, ayam hutan menjadi tuan rumah yang pemalu pagi itu. Sulit sekali melihat mereka dari jalan setapak ini, cerita polisi hutan yang menyertai kami. Mereka memilih berdiam di dalam hutan, dibalik rapatnya pohon kiara dan kopo. Enggan menjadi tontonan manusia yang kerap menawarkan permusuhan. Pemburu liar di hutan ini bukanlah cerita fiksi semata. Sepanjang jalan setapak, pal batu penanda jarak jalan setiap 100 meter, menjadi bukti peninggalan pembangunan pelabuhan yang tak kunjung usai. Sebuah sumur di kiri jalan terlihat semakin tua dengan lumut yang menempel. Sementara kuburan tua di kanan jalan menjadi pertanda. Perjalanan darat yang ditempuh selama satu jam berjalan kaki itu akan berakhir. Tidak jauh dari situ, mercu suar yang ketiga kalinya dibangun di Tanjung Layar, tegak berdiri. Mengerucut keatas, menjulang setinggi 40 meter, sekitar 65 meter dari permukaan air laut. Rangka bajanya dibiarkan telanjang tanpa perlindungan bangunan semen. Cat yang mengelupas disana-sini membuat penampilan mercu suar berusia 33 tahun itu tidak klimis lagi. Deru angin menemani kaki memanjat 84 anak tangga yang berkelok. Kegamangan akan ketinggian terbayar ketika tiba di puncak mercu suar. Penampangnya tidak luas, tidak lebih dari empat meter persegi. Terasa sesak dipadati enam orang dewasa karena masih harus berbagi tempat dengan lampu mercu suar. Namun pemandangan yang terhampar, menguapkan rasa takut ketika lantai besi yang kami pijak terasa bergoyang.
Dari ketinggian itu, mata kami bersua mercu suar yang sudah lama pensiun. Mercu suar kedua itu dibangun di atas mercu suar pertama yang hancur akibat ledakan krakatau 122 tahun yang silam. Otak ini berkelana, menjemput imajinasi tentang masa lalu. Membayangkan penjaga mercu suar yang setia menyalakan lampu kala gelap datang, demi memandu kapal yang berlayar di perairan jalur dagang. Membayangkan petir pada detik-detik menjelang ledakan krakatau, menyambar pintu masuk bangunan mercu suar yang terbuat dari batu. Sementara di bawah tebing itu, ombak besar Selat Sunda menghantam bebatuan. Pecah di titik paling barat daratan Pulau Jawa.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King