no need to race about : I cannot always choose my battlefield

December 10, 2006

something new

Filed under: review, movie - Administrator @ 5:56 pm

tadinya aku gak terlalu berharap banyak ama ni film, selain film yang lumayan enteng buat diliat di akhir minggu. i must admit that im too underestimate a movie with tag line: a romantic comedy with a whole lot of drama

well, for my personal opinion, something new is offering a new kind of romantic comedy with interesting perspective about racial attitude.

Awal film, ialah juga menjadi awal hari Kenya McQueen. (well, i love the way Kriss Turner choose the name: Kenya). Perempuan karir hebat yang berdomisili di LA, digambarkan sebagai pribadi yang selalu bisa mengontrol hidupnya. No doubt that she is a hard worker, also a persistence accountant. She work so hard -which she called as a black tax : black always work twice harder to prove that they have something- to stay on a game. and yup, surely she stay on a white world game as an ace accountant. Kenya also a picky one. She has a list. of everything. including a list about the man whom she get in to.

then, Kenya meet Brian (Simon Baker. mmhh!!!) on a blind date arranged by her friend, Leah. Well, he’s a lovely and warm architect landscape. technicly, ya tukang bikin taman. tapi di kencan buta pertama, mereka gak sempat saling kenal dan ngobrol lama. Kenya keburu ilfil ama tempat janjian mereka di starbucks dan ngerasa salah karena kencan ama white guy. Kenya’s brother, Nelson who always change his girl friend as much as he changes his underwear , said that Kenya has so deppresed and frustated then she have to date with a white guy. apalagi cowok kulit putih yang “cuma” tukang taman.

” I’m just a landscaper. I take hard earth and make things bloom.”

but sometimes love just comes. kencan buta mereka memang tak berkelanjutan. tapi pada sebuah pesta taman, Kenya ketemu Brian. (seems as a force of nature, gitu). Brian ialah orang dibalik taman cantik lokasi pesta tersebut, yang kemudian direkomendaskan sang tuan rumah untuk menata taman berantakan (karena gak pernah diurus sejak beli), di rumah Kenya.

then they meet. again. again. again. dan pada suatu saat, Brian ngajak Kenya hiking. Perempuan African American anak keluarga kaya dan terpandang itu, rupanya tidak terbiasa dengan kegiatan outdoor. Well, daftar komplainnya juga panjang sih. Dia paranoid berat ama laba-laba, and always complaining when they hike. Yang paling sok imut ialah ketidaksukaannya ama Max, anjing golden retriever kepunyaan Brian. (C’mon… golden retriever!!). alasannya: dia gak suka rambut anjing ngotorin rumahnya yang bernuansa beige ala suite nya Hyatt. Boring, formal, and so not homy like carrie’s appartment ;)

but, moment hiking itu mengubah “keteraturan” Kenya akan hidupnya. She fall in love. Well, both of them. Dalam nuansa hujan, di hutan. Scene ini, buat aku pribadi, menjadi scene paling nyebelin dan cemen. kalo ada pondok bambu seperti yang di film-film indonesia jama 70-80an, pasti dah kejadian tuh preamarital sex yang bikin ceweknya hamil instant.

tapi, maunya sutradara, Sanaa Hamri, emang kek gitu kali. then sperti bisa ditebak, kisah cinta mereka berkelanjutan. Kenya mulai berani tampil sesuai identitasnya- tidak lagi menutupi rambut kriwilnya yang segar nan seksi- , mulai nge cat rumah dengan warna-warna sesuai minatnya (bukan lagi selera nyokapnya), dan mulai sedikit nyantei ama hal-hal kecil yang biasanya bikin senyumnya mengerut. she really like her new life with bryan, but annoyed of what people thinking of.

prejudice yang dialami Kenya di dunia kerja - ketika salah satu klien nya merasa ia tak cukup kompeten hanya karena dia bukan perempuan kulit putih- juga dirasakan Bryan dalam dunia sosial Kenya. Bryan, cowok kulit putih yang tidak tergolong kaum sosialita LA, jelas bukan “siapa-siapa”. Kenya jadi terlihat so depressed, so frightened to classified as 42,3% african american woman who never get married. Bryan tergambar seperti last man yang bisa ia harapkan. Apalagi, dari seluruh daerah di bagian barat U.S, komunitas African American paling banyak tinggal di LA. Jumlahnya mencapai 25% dari seluruh African American di U.S.

prejudice antar ras, mewarnai scene demi scene hubungan mereka di mata orang lain. Tapi Bryan selalu tersenyum. And yup, Simon Baker’s smile. ;)

well, what i do love on simon baker is his smile. manly sweet. first time i saw him so intense in Book of Love (2004). He was acting as a loyal and lovable husband who got betrayed : his wife have an affair with his student. then i saw him in we Dont Live Here Anymore (2204). Then i saw him on Devil wears prada. As Christian, a famous and cute writer. Well Simon is so nice, but not too nice. he’s the one to fight for, to caught. he is a chalenge. but still nice. not too sweet like Matthew McConaughey, but still..sweet. manly sweet. ;)

back to movie: their relationship just didnt work. another man comes in to Kenya’s life. also African American. good carrier. high class.

i wont tell you what the end.. but a lil bit clue: it just like another hollywood movie’s moral story, love find a way. happy ending is a must. like one of quotes: At the end of the day it’s not about skin color or race. It’s about the love connection: the vibe between a man and a woman.

  • hehe..spoiler..spoiler-

nice movie. even its offering a new kind of racial perspective, but still.. its a comedy romantic which nice to be seen on your weekend, with or without your boyfriend. ;) so..dont expect too much on deeply digging about interacial relationship. its a weekend movie.

ketik C [spasi] D : Babel Review

Filed under: review, movie - Administrator @ 2:38 pm

capeeek deeeeeh!!

but, the good thing having a blog is you can write anything, satisfied and no need to feel loosing your blood for a while when it published wrongly and tasteless.

Babel. : If You Want to be Understood…Listen

(another version of this, has published. MI Sabtu 9/12-06. this review below is not the part of fight, only a need to publish on my way)

Babel, menurut kisah pada Genesis, bab 11 Bibel, ialah nama sebuah menara yang dibangun manusia untuk mencapai langit. Namun, mereka bekerja lebih keras untuk menara tersebut daripada berdoa kepada Tuhan. Karena pembangkangan itu, Tuhan menghentikan usaha mereka dengan cara mengelirukan bahasa antar tukang batu agar tak bisa berkomunikasi. Pembangunan menara berhenti karena mereka tak mengerti satu sama lain. Hingga kemudian, para tukang batu itu jatuh tersebar di tanah. Menara gagal terbangun, karena salah sangka. Dalam nuansa kekinian, sutradara Alejandro Gonzales Inarritu dan penulis skenario Guillermo Arriaga, fasih membahasakan segala prasangka dalam kisah mereka. Isu terorisme, yang membahana sejak tragedi 9/11 hingga prasangka klasik di perbatasan jalan masuk kaum Hispanik ke Amerika Serikat. Prasangka dunia barat atas dunia timur, diterjemahkan manusiawi dalam kecemasan sekelompok turis yang tengah berkunjung ke Maroko. Peluru nyasar buah keingintahuan bocah Maroko, yang melukai Susan (Cate Blanchett), mengemuka menjadi isu teroris yang serius. Maklum, turis paranoid yang bahkan tak berani mencampur coca cola kemasan kaleng nya dengan es batu itu memang pemegang paspor Amerika Serikat. Polisi lokal Maroko memburu pemilik senjata, dan melakukan intrograsi dengan kasar. Sejumlah adegan kekerasan muncul secara intens. Namun cukup jujur. Tak berlebihan, melainkan fakta.
Seiring kisah berjalan, senjata yang menjadi perkara itu ternyata pengait adegan di Tokyo. Seorang pemburu asal Jepang, yang meninggalkan senapan tersebut sebagai ucapan terimakasih kepada seorang warga Maroko, juga tak memiliki hidup yang sederhana. Dalam gegap gempita kehidupan urban Tokyo, ia menjalani kehidupan paska kematian sang istri yang bunuh diri, bersama Chieko, putri tunggalnya yang bisu tuli. Pada keheningan dunianya, Chieko berusaha menikmati gegap gempita lampu disko, tawa tak berbunyi teman-temannya di kawasan gaul Harajuku, sembari menyembuhkan luka kehilangan atas ibunya. Keterbatasan Chikeo untuk mengungkapkan perasaannya, juga kesulitan Chikeo menerima perlakuan orang lain, mengemuka dalam ekploitas birahi yang polos tanpa politik. Ia, anak muda Jepang yang cuek, namun juga rapuh. Tubuh polosnya meretak saat sang Ayah datang dan memeluknya erat di balkon apartemen mereka. Dan tangis yang tersimpan lama, meruah, seolah menjadi pertanda, mereka tak lagi keliru bahasa. Sebuah duka, terkadang memang menjadi jembatan kasih. Pasangan suami istri, Richard (Brad Pitt) dan Susan pun mengalami hal yang sama. Hubungan mereka yang sepi dan beku, efek dari kematian bayi mereka, kembali hangat ketika Susan yang tertembak, kesulitan buang air kecil. Kasih suami istri itu yang kembali terbahasakan, menguatkan penantian atas helikopter utusan kedutaan Amerika Serikat. Persahabatan pun tercipta antara Richard dan pemuda Maroko, guide tur yang menemani Richard menunggu bantuan, ketimbang mendapatkan uang dengan menemani rombongan turis yang meninggalkan Maroko penuh ketakutan. Pengertian yang tulus, yang memahami. Seperti pengertian dan kasih anak-anak pasangan Richard dan Susan kepada pengasuh Hispaniknya, Amelia (Adriana Bazzra).
Kekuatan kisah dan nuansa lugas film yang menjadi pembuka Jakarta Internasional Film Festival (Jiffest) 2006 ini, juga mendapatkan banyak perhatian dari dunia film internasional. Meski ada sedikit kejanggalan pada sebuah adegan saat Susan tertembak, namun Inarritu teliti memilin kisah seperti spiral. Film ini, secara struktur, senada dengan film 21 Grams ataupun Amores Perros. Kedua film tersebut memang buah karya terdahulu antara Inarritu dan Ariaga. Potongan-potongan kisah di dalamnya, serupa dengan kepingan puzzle sederhana yang ditata Nia Dinata untuk membangun Berbagi Suami. Hanya bedanya, alur penceritaan Babel seperti spiral yang bertemu di satu titik waktu, lalu berpisah, kemudian bersiborok kembali. Potongan-potongan adegan meloncat manis dari padang pasir Maroko, ke lingkungan nyaman California, Amerika Serikat, lantas menuju terangnya bilborad neon di Tokyo, menyeberang ke kemeriahan Meksiko hingga suasana mencekam penuh prasangka di perbatasan antara Amerika Serikat dan Meksiko. Celetohan pelakonnya, berpindah mengikuti geogarifis. Berucap bahasa Arab, Jepang, Inggris, Spanyol hingga bahasa isyarat. Bahkan saat Chieko tak mendengar apa-apa, penonton pun diajak mengalami hal yang sama. Empat kisah berbeda, dari lakon yang tak berbagi ruang dan waktu yang sama, memilin kesatuan menara cerita. Bahwa prasangka, mengundang kehancuran umat manusia. Persis seperti para tukang batu yang gagal membangun menara karena salah sangka bahasa. (sic)

===

Babel, saya tonton dalam suasana pre screening for journalist, which is: sepi dari peminat jiffest yang udah keburu ngabisin tiket film yang dipasang saat pembukan Jiffest ini. Im so happy to watch this movie with atta. but, still.. need some energy to enjoy this movie, especially with so much to do that day. namanya juga kuli.. hehe..

untunglah, filmnya sendiri tak mengecewakan. atta bilang ia gak suka jenis film kayak gini. tapi aku rasa dia rela-rela aja untuk sepotong wajah brad pitt yang muncul sesekali, kucel, penuh kerut, berdebu, sedih, kosong, tapi keliatan cintaaaaa banget ama istrinya, Susan (Cate Blanchett) aku sendiri, surprise ama pemeran chieko. ia gak punya dialog, la wong emang bisu. tapi gesturnya, cara dia menangis tumpah ruah, cara dia memandang gemerlap lampu disko, begitu intens dan memberi banyak ruang untuk diinterpretasikan oleh orang lain. well, anyway, its agreat movie anyway.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King